Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Manshur At Thobani Al Laalikai

(Wafat 416 H)
Nama lengkapnya
Hibatullah bin Al Hasan bin Manshur Ar Rozi At Thobani Al Laalikai.
Negeri dan perkembangannya
Al Khotib dan Ibnu Jauzi menjelaskan bahwa asal Thobani di nisbatkan ke negeri Thobanistan. Adapun Ar Rozi dinisbatkan ke kota besar yaitu Ar Roy. Kemudian beliau singgah di Baghdad dan bermukim di Baghdad. Jadi beliau pernah singgah di 3 tempat

Thobanistan negeri aslinya.

Rihlah ke Ar Roy untuk menuntut ilmu.

Baghdad.

Penisbatan beliau hanya ke Thobanistan dan Ar Roy tidak ada penisbatan ke Baghdad karena beliau hanya bermukim sebentar di Baghdad.

Guru-guru beliau.

Abu Hamid Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Al Isfiroyini Imam Madhab Syafi’I pada zamannya (w. 406 h).
Ibrohim bin Muhammad bin Ubaid Abu Mas’ud Ad Dimasyqi.
Al Hasan bin Utsman (w. 405 h).
Muhammad bin Abdurrohman Al Abbasi Al Mukhlish.
Isa bin Ali bin Isa Al Wazir.
Ubaidillah bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Ahmad Al Farodhi (w. 406 h).
Muhammad bin Al Hasan Al Farisi (w. 386 h)
Abdurrohman bin Umar Abu Husain Al Mu’dil (w. 397 h)
Abdullah bin Muslim bin Yahya (w. 397 h)
Muhammad bin Ali bin Nadhor (w. 396 h)
Murid-murid beliau

Abu Bakar Ahmad bin Ali Al Khotib Al Baghdadi (w. 463 h)
Abu Hasan Ali bin Al Husain Al ‘Abari (w. 468 h)
Abu Bakar Muhammad bin Hibatullah bin Al Hasan At Thobani Al Lalikai
Ahmad bin Ali bin Zakaria At Thoni Tsitsi Syaikh sufi di Khurasan (w. 497 h)
Karangan-karangan beliau.
Karomatu Auliyallah
Asmau Rijalush Shohihain
Fawaidu fikhtiari Abi Qosim
Syarhu kitabi ‘Umar bin Khoththob.
Dan lain-lain.
Pujian para ulama terhadap beliau.

Al Hafid Al Khotib Al Bagdadi : beliau belajar fiqh As Syafi’I kepada Abi Al Isfiroyini.
Al Hafidz Adz Dzahabi : beliau mufidu bagdad pada zamannya.
Ibnu Atsir : beliau mendengar dan belajar hadits kepada Abi Hamid.
Wafatnya

Beliau wafat di kota Dimur hari selasa bulan Romadhon tehun 416 h. Ali bin Al Hasan bin Jada Al ‘Akbarni berkata : “Aku bermimpi bertemu dengan Abi Qosim At Thobuni, lalu saya bertanya kepadanya: “Apa yang Allah lakukan pada mu ?”, beliau menjawab; Allah telah mengampuniku, lalu saya berkata: “Dengan apa ?”, beliau menjawab; dengan kalimat yang samar (dengan sunnah).

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah

(wafat 656 H)

Nama seberanya adalah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’ad bin Huraiz az-Zar’i, kemudian ad-Dimasyqi. Dikenal dengan ibnul Qayyim al-Jauziyyah nisbat kepada sebuah madrasah yang dibentuk oleh Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf bin Abdil Rahman bin Ali al-Jauzi yang wafat pada tahun 656 H, sebab ayah Ibnul Qayyim adalah tonggak bagi madrasah itu.

Ibnul Qayyim dilahirkan di tengah keluarga berilmu dan terhormat pada tanggal 7 Shaffar 691 H. Di kampung Zara’ dari perkampungan Hauran, sebelah tenggara Dimasyq (Damaskus) sejauh 55 mil.

Pertumbuhan Dan Thalabul Ilminya

Ia belajar ilmu faraidl dari bapaknya karena beliau sangat menonjol dalam ilmu itu. Belajar bahasa Arab dari Ibnu Abi al-Fath al-Baththiy dengan membaca kitab-kitab: (al-Mulakhkhas li Abil Balqa’ kemudian kitab al-Jurjaniyah, kemudian Alfiyah Ibnu Malik, juga sebagian besar Kitab al-kafiyah was Syafiyah dan sebagian at-Tas-hil). Di samping itu belajar dari syaikh Majduddin at-Tunisi satu bagian dari kitab al-Muqarrib li Ibni Ushfur.

Belajar ilmu Ushul dari Syaikh Shafiyuddin al-Hindi, Ilmu Fiqih dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Isma’il bin Muhammad al-Harraniy.

Beliau amat cakap dalam hal ilmu melampaui teman-temannya, masyhur di segenap penjuru dunia dan amat dalam pengetahuannya tentang madzhab-madzhab Salaf.

Pada akhirnya beliau benar-benar bermulazamah secara total (berguru secara intensif) kepada Ibnu Taimiyah sesudah kembalinya Ibnu Taimiyah dari Mesir tahun 712 H hingga wafatnya tahun 728 H.

Pada masa itu, Ibnul Qayyim sedang pada awal masa-masa mudanya. Oleh karenanya beliau sempat betul-betul mereguk sumber mata ilmunya yang luas. Beliau dengarkan pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah yang penuh kematangan dan tepat. Oleh karena itulah Ibnul Qayyim amat mencintainya, sampai-sampai beliau mengambil kebanyakan ijtihad-ijtihadnya dan memberikan pembelaan atasnya. Ibnul Qayyim yang menyebarluaskan ilmu Ibnu Taimiyah dengan cara menyusun karya-karyanya yang bagus dan dapat diterima.

Ibnul Qayyim pernah dipenjara, dihina dan diarak berkeliling bersama Ibnu Taimiyah sambil didera dengan cambuk di atas seekor onta. Setelah Ibnu Taimiyah wafat, Ibnul Qayyim pun dilepaskan dari penjara.

Sebagai hasil dari mulazamahnya (bergurunya secara intensif) kepada Ibnu Taimiyah, beliau dapat mengambil banyak faedah besar, diantaranya yang penting ialah berdakwah mengajak orang supaya kembali kepada kitabullah Ta’ala dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahihah, berpegang kepada keduanya, memahami keduanya sesuai dengan apa yang telah difahami oleh as-Salafus ash-Shalih, membuang apa-apa yang berselisih dengan keduanya, serta memperbaharui segala petunjuk ad-Din yang pernah dipalajarinya secara benar dan membersihkannya dari segenap bid’ah yang diada-adakan oleh kaum Ahlul Bid’ah berupa manhaj-manhaj kotor sebagai cetusan dari hawa-hawa nafsu mereka yang sudah mulai berkembang sejak abad-abad sebelumnya, yakni: Abad kemunduran, abad jumud dan taqlid buta.

Beliau peringatkan kaum muslimin dari adanya khurafat kaum sufi, logika kaum filosof dan zuhud model orang-orang hindu ke dalam fiqrah Islamiyah.

Ibnul Qayyim rahimahullah telah berjuang untuk mencari ilmu serta bermulazamah bersama para Ulama supaya dapat memperoleh ilmu mereka dan supaya bisa menguasai berbagai bidang ilmu Islam.

Penguasaannya terhadap Ilmu Tafsir tiada bandingnya, pemahamannya terhadap Ushuluddin mencapai puncaknya dan pengetahuannya mengenai Hadits, makna hadits, pemahaman serta Istinbath-Istinbath rumitnya, sulit ditemukan tandingannya.

Semuanya itu menunjukkan bahwa beliau rahimahullah amat teguh berpegang pada prinsip, yakni bahwa “Baiknya” perkara kaum Muslimin tidak akan pernah terwujud jika tidak kembali kepada madzhab as-Salafus ash-Shalih yang telah mereguk ushuluddin dan syari’ah dari sumbernya yang jernih yaitu Kitabullah al-‘Aziz serta sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam asy-syarifah.

Oleh karena itu beliau berpegang pada (prinsip) ijtihad serta menjauhi taqlid. Beliau ambil istinbath hukum berdasarkan petunjuk al-Qur’anul Karim, Sunnah Nabawiyah syarifah, fatwa-fatwa shahih para shahabat serta apa-apa yang telah disepakati oleh ahlu ats tsiqah (ulama terpercaya) dan A’immatul Fiqhi (para imam fiqih).

Dengan kemerdekaan fikrah dan gaya bahasa yang logis, beliau tetapkan bahwa setiap apa yang dibawa oleh Syari’ah Islam, pasti sejalan dengan akal dan bertujuan bagi kebaikan serta kebahagiaan manusia di dunia maupun di akhirat.

Beliau rahimahullah benar-benar menyibukkan diri dengan ilmu dan telah benar-benar mahir dalam berbagai disiplin ilmu, namun demikian beliau tetap terus banyak mencari ilmu, siang maupun malam dan terus banyak berdo’a.

Sasarannya

Sesungguhnya Hadaf (sasaran) dari Ulama Faqih ini adalah hadaf yang agung. Beliau telah susun semua buku-bukunya pada abad ke-tujuh Hijriyah, suatu masa dimana kegiatan musuh-musuh Islam dan orang-orang dengki begitu gencarnya. Kegiatan yang telah dimulai sejak abad ketiga Hijriyah ketika jengkal demi jengkal dunia mulai dikuasai Isalam, ketika panji-panji Islam telah berkibar di semua sudut bumi dan ketika berbagai bangsa telah banyak masuk Islam; sebahagiannya karena iman, tetapi sebahagiannya lagi terdiri dari orang-orang dengki yang menyimpan dendam kesumat dan bertujuan menghancurkan (dari dalam pent.) dinul Hanif (agama lurus). Orang-orang semacam ini sengaja melancarkan syubhat (pengkaburan)-nya terhadap hadits-hadits Nabawiyah Syarif dan terhadap ayat-ayat al-Qur’anul Karim.

Mereka banyak membuat penafsiran, ta’wil-ta’wil, tahrif, serta pemutarbalikan makna dengan maksud menyebarluaskan kekaburan, bid’ah dan khurafat di tengah kaum Mu’minin.

Maka adalah satu keharusan bagi para A’immatul Fiqhi serta para ulama yang memiliki semangat pembelaan terhadap ad-Din, untuk bertekad memerangi musuh-musuh Islam beserta gang-nya dari kalangan kaum pendengki, dengan cara meluruskan penafsiran secara shahih terhadap ketentuan-ketentuan hukum syari’ah, dengan berpegang kepada Kitabullah wa sunnatur Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk pengamalan dari Firman Allah Ta’ala: “Dan Kami turunkan Al Qur’an kepadamu, agar kamu menerangkan kepada Umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (an-Nahl:44).

Juga firman Allah Ta’ala, “Dan apa-apa yang dibawa Ar Rasul kepadamu maka ambillah ia, dan apa-apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (al-Hasyr:7).

Murid-Muridnya

Ibnul Qayyim benar-benar telah menyediakan dirinya untuk mengajar, memberi fatwa, berdakwah dan melayani dialog. Karena itulah banyak manusia-manusia pilihan dari kalangan para pemerhati yang menempatkan ilmu sebagai puncak perhatiannya, telah benar-benar menjadi murid beliau.

Mereka itu adalah para Ulama terbaik yang telah terbukti keutamaannya, di antaranya ialah: anak beliau sendiri bernama Syarafuddin Abdullah, anaknya yang lain bernama Ibrahim, kemudian Ibnu Katsir ad-Dimasyqiy penyusun kitab al-Bidayah wan Nihayah, al-Imam al-Hafizh Abdurrahman bin Rajab al-Hambali al-Baghdadi penyusun kitab Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abdil Hadi al-Maqdisi, Syamsuddin Muhammad bin Abdil Qadir an-Nablisiy, Ibnu Abdirrahman an-Nablisiy, Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz adz-Dzhahabi at-Turkumaniy asy-Syafi’i, Ali bin Abdil Kafi bin Ali bin Taman As Subky, Taqiyussssddin Abu ath-Thahir al-Fairuz asy-Syafi’i dan lain-lain.

Aqidah Dan Manhajnya

Adalah Aqidah Ibnul Qayyim begitu jernih, tanpa ternodai oleh sedikit kotoran apapun, itulah sebabnya, ketika beliau hendak membuktikan kebenaran wujudnya Allah Ta’ala, beliau ikuti manhaj al-Qur’anul Karim sebagai manhaj fitrah, manhaj perasaan yang salim dan sebagai cara pandang yang benar. Beliau –rahimahullah- sama sekali tidak mau mempergunakan teori-teori kaum filosof.

Ibnul Qayiim rahimahullah mengatakan, “Perhatikanlah keadaan alam seluruhnya –baik alam bawah maupun- alam atas dengan segala bagian-bagaiannya, niscaya anda akan temui semua itu memberikan kesaksian tentang adanya Sang Pembuat, Sang Pencipta dan Sang Pemiliknya. Mengingkari adanya Pencipta yang telah diakui oleh akal dan fitrah berarti mengingkari ilmu, tiada beda antara keduanya. Bahwa telah dimaklumi; adanya Rabb Ta’ala lebih gamblang bagi akal dan fitrah dibandingkan dengan adanya siang hari. Maka barangsiapa yang akal serta fitrahnya tidak mampu melihat hal demikian, berarti akal dan fitrahnya perlu dipertanyakan.”

Hadirnya Imam Ibnul Qayyim benar-benar tepat ketika zaman sedang dilanda krisis internal berupa kegoncangan dan kekacauan (pemikiran Umat Islam–Pent.) di samping adanya kekacauan dari luar yang mengancam hancurnya Daulah Islamiyah. Maka wajarlah jika anda lihat Ibnul Qayyim waktu itu memerintahkan untuk membuang perpecahan sejauh-jauhnya dan menyerukan agar umat berpegang kepada Kitabullah Ta’ala serta Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Manhaj serta hadaf Ibnul Qayyim rahimahullah ialah kembali kepada sumber-sumber dinul Islam yang suci dan murni, tidak terkotori oleh ra’yu-ra’yu (pendapat-pendapat) Ahlul Ahwa’ wal bida’ (Ahli Bid’ah) serta helah-helah (tipu daya) orang-orang yang suka mempermainkan agama.

Oleh sebab itulah beliau rahimahullah mengajak kembali kepada madzhab salaf; orang-orang yang telah mengaji langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Merekalah sesungguhnya yang dikatakan sebagai ulama waratsatun nabi (pewaris nabi) shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam pada itu, tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewariskan dinar atau dirham, tetapi beliau mewariskan ilmu. Berkenaan dengan inilah, Sa’id meriwayatkan dari Qatadah tentang firman Allah Ta’ala,

وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

“Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji..” (Saba’ 34:6).

Qotadah mengatakan, “Mereka (orang-orang yang diberi ilmu) itu ialah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Di samping itu, Ibnul Qayyim juga mengumandangkan bathilnya madzhab taqlid.

Kendatipun beliau adalah pengikut madzhab Hanbali, namun beliau sering keluar dari pendapatnya kaum Hanabilah, dengan mencetuskan pendapat baru setelah melakukan kajian tentang perbandingan madzhab-madzhab yang masyhur.

Mengenai pernyataan beberapa orang bahwa Ibnul Qayyim telah dikuasai taqlid terhadap imam madzhab yang empat, maka kita memberi jawaban sebagai berikut, Sesungguhnya Ibnul Qayyim rahimahullah amat terlalu jauh dari sikap taqlid. Betapa sering beliau menyelisihi madzhab Hanabilah dalam banyak hal, sebaliknya betapa sering beliau bersepakat dengan berbagai pendapat dari madzhab-madzhab yang bermacam-macam dalam berbagai persoalan lainnya.

Memang, prinsip beliau adalah ijtihad dan membuang sikap taqlid. Beliau rahimahullah senantiasa berjalan bersama al-Haq di mana pun berada, ittijah (cara pandang)-nya dalam hal tasyari’ adalah al-Qur’an, sunnah serta amalan-amalan para sahabat, dibarengi dengan ketetapannya dalam berpendapat manakala melakukan suatu penelitian dan manakala sedang berargumentasi.

Di antara da’wahnya yang paling menonjol adalah da’wah menuju keterbukaan berfikir. Sedangkan manhajnya dalam masalah fiqih ialah mengangkat kedudukan nash-nash yang memberi petunjuk atas adanya sesuatu peristiwa, namun peristiwa itu sendiri sebelumnya belum pernah terjadi.

Adapun cara pengambilan istinbath hukum, beliau berpegang kepada al-Kitab, as-Sunnah, Ijma’ Fatwa-fatwa shahabat, Qiyas, Istish-habul Ashli (menyandarkan persoalan cabang pada yang asli), al-Mashalih al-Mursalah, Saddu adz-Dzari’ah (tindak preventif) dan al-‘Urf (kebiasaan yang telah diakui baik).

Ujian Yang Dihadapi

Adalah wajar jika orang ‘Alim ini, seorang yang berada di luar garis taqlid turun temurun dan menjadi penentang segenap bid’ah yang telah mengakar, mengalami tantangan seperti banyak dihadapi oleh orang-orang semisalnya, menghadapi suara-suara sumbang terhadap pendapat-pendapat barunya.

Orang-orang pun terbagi menjadi dua kubu: Kubu yang fanatik kepadanya dan kubu lainnya kontra. Oleh karena itu, beliau rahimahullah menghadapi berbagai jenis siksaan. Beliau seringkali mengalami gangguan. Pernah dipenjara bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah secara terpisah-pisah di penjara al-Qal’ah dan baru dibebaskan setelah Ibnu Taimiyah wafat.

Hal itu disebabkan karena beliau menentang adanya anjuran agar orang pergi berziarah ke kuburan para wali. Akibatnya beliau disekap, dihinakan dan diarak berkeliling di atas seekor onta sambil didera dengan cambuk.

Pada saat di penjara, beliau menyibukkan diri dengan membaca al-Qur’an, tadabbur dan tafakkur. Sebagai hasilnya, Allah membukakan banyak kebaikan dan ilmu pengetahuan baginya. Di samping ujian di atas, ada pula tantangan yang dihadapi dari para qadhi karena beliau berfatwa tentang bolehnya perlombaan pacuan kuda asalkan tanpa taruhan. Sungguhpun demikian Ibnul Qayyim rahimahullah tetap konsisten (teguh) menghadapi semua tantangan itu dan akhirnya menang. Hal demikian disebabkan karena kekuatan iman, tekad serta kesabaran beliau. Semoga Allah melimpahkan pahala atasnya, mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya serta segenap kaum muslimin.

Pujian Ulama Terhadapnya

Sungguh Ibnul Qayyim rahimahullah teramat mendapatkan kasih sayang dari guru-guru maupun muridnya. Beliau adalah orang yang teramat dekat dengan hati manusia, amat dikenal, sangat cinta pada kebaikan dan senang pada nasehat. Siapa pun yang mengenalnya tentu ia akan mengenangnya sepanjang masa dan akan menyatakan kata-kata pujian bagi beliau. Para Ulama pun telah memberikan kesaksian akan keilmuan, kewara’an, ketinggian martabat serta keluasan wawasannya.

Ibnu Hajar pernah berkata mengenai pribadi beliau, “Dia adalah seorang yang berjiwa pemberani, luas pengetahuannya, faham akan perbedaan pendapat dan madzhab-madzhab salaf.”

Di sisi lain, Ibnu Katsir mengatakan, “Beliau seorang yang bacaan Al-Qur’an serta akhlaqnya bagus, banyak kasih sayangnya, tidak iri, dengki, menyakiti atau mencaci seseorang. Cara shalatnya panjang sekali, beliau panjangkan ruku’ serta sujudnya hingga banyak di antara para sahabatnya yang terkadang mencelanya, namun beliau rahimahullah tetap tidak bergeming.”

Ibnu Katsir berkata lagi, “Beliau rahimahullah lebih didominasi oleh kebaikan dan akhlaq shalihah. Jika telah usai shalat Shubuh, beliau masih akan tetap duduk di tempatnya untuk dzikrullah hingga sinar matahari pagi makin meninggi. Beliau pernah mengatakan, ‘Inilah acara rutin pagi buatku, jika aku tidak mengerjakannya nicaya kekuatanku akan runtuh.’ Beliau juga pernah mengatakan, ‘Dengan kesabaran dan perasaan tanpa beban, maka akan didapat kedudukan imamah dalam hal din (agama).’”

Ibnu Rajab pernah menukil dari adz-Dzahabi dalam kitabnya al-Mukhtashar, bahwa adz-Dzahabi mengatakan, “Beliau mendalami masalah hadits dan matan-matannya serta melakukan penelitian terhadap rijalul hadits (para perawi hadits). Beliau juga sibuk mendalami masalah fiqih dengan ketetapan-ketetapannya yang baik, mendalami nahwu dan masalah-masalah Ushul.”

Tsaqafahnya

Ibnul Qayyim rahimahullah merupakan seorang peneliti ulung yang ‘Alim dan bersungguh-sungguh. Beliau mengambil semua ilmu dan mengunyah segala tsaqafah yang sedang jaya-jayanya pada masa itu di negeri Syam dan Mesir.

Beliau telah menyusun kitab-kitab fiqih, kitab-kitab ushul, serta kitab-kitab sirah dan tarikh. Jumlah tulisan-tulisannya tiada terhitung banyaknya, dan diatas semua itu, keseluruhan kitab-kitabnya memiliki bobot ilmiah yang tinggi. Oleh karenanyalah Ibnul Qayyim pantas disebut kamus segala pengetahuan ilmiah yang agung.

Karya-Karyanya

Beliau rahimahullah memang benar-benar merupakan kamus berjalan, terkenal sebagai orang yang mempunyai prinsip dan beliau ingin agar prinsipnya itu dapat tersebarluaskan. Beliau bekerja keras demi pembelaannya terhadap Islam dan kaum muslimin.

Buku-buku karangannya banyak sekali, baik yang berukuran besar maupun berukuran kecil. Beliau telah menulis banyak hal dengan tulisan tangannya yang indah. Beliau mampu menguasai kitab-kitab salaf maupun khalaf, sementara orang lain hanya mampun menguasai sepersepuluhnya.

Beliau teramat senang mengumpulkan berbagai kitab. Oleh sebab itu Imam ibnul Qayyim terhitung sebagai orang yang telah mewariskan banyak kitab-kitab berbobot dalam pelbagai cabang ilmu bagi perpustakaan-perpustakaan Islam dengan gaya bahasanya yang khas; ilmiah lagi meyakinkan dan sekaligus mengandung kedalaman pemikirannya dilengkapi dengan gaya bahasa nan menarik.

Beberapa Karyanya

Tahdzib Sunan Abi Daud,
I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin,
Ighatsatul Lahfan fi Hukmi Thalaqil Ghadlban,
Ighatsatul Lahfan fi Masha`id asy-Syaithan,
Bada I’ul Fawa’id,
Amtsalul Qur’an,
Buthlanul Kimiya’ min Arba’ina wajhan,
Bayan ad-Dalil ’ala istighna’il Musabaqah ‘an at-Tahlil,
At-Tibyan fi Aqsamil Qur’an,
At-Tahrir fi maa yahillu wa yahrum minal haris,
Safrul Hijratain wa babus Sa’adatain,
Madarijus Salikin baina manazil Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in,
Aqdu Muhkamil Ahya’ baina al-Kalimit Thayyib wal Amais Shalih al-Marfu’ ila Rabbis Sama’
Syarhu Asma’il Kitabil Aziz,
Zaadul Ma’ad fi Hadyi Kairul Ibad,
Zaadul Musafirin ila Manazil as-Su’ada’ fi Hadyi Khatamil Anbiya’
Jala’ul Afham fi dzkris shalati ‘ala khairil Am,.
Ash-Shawa’iqul Mursalah ‘Alal Jahmiyah wal Mu’aththilah,
Asy-Syafiyatul Kafiyah fil Intishar lil firqatin Najiyah,
Naqdul Manqul wal Muhakkil Mumayyiz bainal Mardud wal Maqbul,
Hadi al-Arwah ila biladil Arrah,
Nuz-hatul Musytaqin wa raudlatul Muhibbin,
al-Jawabul Kafi Li man sa`ala ’anid Dawa`is Syafi,
Tuhfatul Wadud bi Ahkamil Maulud,
Miftah daris Sa’adah,
Ijtima’ul Juyusy al-Islamiyah ‘ala Ghazwi Jahmiyyah wal Mu’aththilah,
Raf’ul Yadain fish Shalah,
Nikahul Muharram,
Kitab tafdlil Makkah ‘Ala al-Madinah,
Fadl-lul Ilmi,
‘Uddatus Shabirin wa Dzakhiratus Syakirin,
al-Kaba’ir,
Hukmu Tarikis Shalah,
Al-Kalimut Thayyib,
Al-Fathul Muqaddas,
At-Tuhfatul Makkiyyah,
Syarhul Asma il Husna,
Al-Masa`il ath-Tharablusiyyah,
Ash-Shirath al-Mustaqim fi Ahkami Ahlil Jahim,
Al-Farqu bainal Khullah wal Mahabbah wa Munadhorotul Khalil li qaumihi,
Ath-Thuruqul Hikamiyyah, dan masih banyak lagi kitab-kitab serta karya-karya besar beliau yang digemari oleh berbagai pihak.
Wafatnya

Ibnul-Qoyyim meninggal dunia pada waktu isya’ tanggal 13 Rajab 751 H. Ia dishalatkan di Mesjid Jami’ Al-Umawi dan setelah itu di Masjid Jami’ Jarrah; kemudian dikuburkan di Pekuburan Babush Shagir.

Sumber:

Al-Bidayah wan Nihayah libni Katsir; Muqaddimah Zaadil Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibad, Tahqiq: Syu’ab wa Abdul Qadir al-Arna`uth; Muqaddimah I’lamil Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘alamin; Thaha Abdur Ra’uf Sa’d; Al-Badrut Thali’ Bi Mahasini ma Ba’dal Qarnis Sabi’ karya Imam asy-Syaukani; Syadzaratudz dzahab karya Ibn Imad; Ad-Durar al-Kaminah karya Ibn Hajar al-‘Asqalani; Dzail Thabaqat al-Hanabilah karya Ibn Rajab Al Hanbali; Al Wafi bil Wafiyat li Ash Shafadi; Bughyatul Wu’at karya Suyuthi; Jala’ul ‘Ainain fi Muhakamah al-Ahmadin karya al-Alusi

Ibnu Taimiyah

Lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arabia yang terletak antara sungai Dajalah (Tigris) dengan Efrat, pada hari Senin 10 Rabiu’ul Awal tahun 661H. Beliau berhijrah ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua dan keluarganya ketika umurnya masih kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas negerinyaa. Mereka menempuh perjalanan hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta benda, tanpa ada seekor binatang tunggangan-pun pada mereka.

Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir saja pasukan musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka ber-istighatsah (mengadukan permasalahan) kepada Allah Ta’ala. Akhirnya mereka bersama kitab- kitabnya dapat selamat.

Pertumbuhan dan ghirahnya kepada ilmu

Semenjak kecil sudah nampak tanda-tanda kecerdasan pada diri beliau. Begitu tiba di Damsyik beliau segera menghafalkan Al-Qur’an dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, huffazh dan ahli-ahli hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang.

Ketika umur beliau belum mencapai belasan tahun, beliau sudah menguasai ilmu Ushuluddin dan sudah mengalami bidang-bidang tafsir, hadits dan bahasa Arab.

Pada unsur-unsur itu, beliau telah mengkaji musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, kemudian kitabu-Sittah dan Mu’jam At-Thabarani Al-Kabir.

Suatu kali, ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama besar dari Halab (suatu kota lain di Syria sekarang, pen.) yang sengaja datang ke Damasyiq, khusus untuk melihat si bocah bernama Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, beliaupun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya. Hingga ulama tersebut berkata: “Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah seperti dia.

Sejak kecil beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama, mempunyai kesempatan untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa kitab-kitab yang bermanfaat. Beliau infakkan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar, menggali ilmu terutama kitabullah dan sunah Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam.

Lebih dari semua itu, beliau adalah orang yang keras pendiriannya dan teguh berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau pernah berkata: ”Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.”

Begitulah seterusnya Ibnu Taimiyah, selalu sungguh-sungguh dan tiada putus-putusnya mencari ilmu, sekalipun beliau sudah menjadi tokoh fuqaha’ dan ilmu serta dinnya telah mencapai tataran tertinggi.

Pujian ulama

Al-Allamah As-Syaikh Al-Karamy Al-Hambali dalam Kitabnya Al-Kawakib AD-Darary yang disusun kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-jasa) Ibnu Taimiyah, berkata: “Banyak sekali imam-imam Islam yang memberikan pujian kepada (Ibnu Taimiyah) ini. Diantaranya: Al-Hafizh Al-Mizzy, Ibnu Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan An-Nahwy, Al-Hafizh Ibnu Sayyid An-Nas, Al-Hafizh Az-Zamlakany, Al-Hafidh Adz-Dzahabi dan para imam ulama lain.

Al-Hafizh Al-Mizzy mengatakan: “Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah … dan belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam serta lebih ittiba’ dibandingkan beliau.”

Al-Qadhi Abu Al-Fath bin Daqiq Al-Ied mengatakan: “Setelah aku berkumpul dengannya, kulihat beliau adalah seseorang yang semua ilmu ada di depan matanya, kapan saja beliau menginginkannya, beliau tinggal mengambilnya, terserah beliau. Dan aku pernah berkata kepadanya: “Aku tidak pernah menyangka akan tercipta manasia seperti anda.”

Al-Qadli Ibnu Al-Hariry mengatakan: “Kalau Ibnu Taimiyah bukah Syaikhul Islam, lalu siapa dia ini ?” Syaikh Ahli nahwu, Abu Hayyan An-Nahwi, setelah beliau berkumpul dengan Ibnu Taimiyah berkata: “Belum pernah sepasang mataku melihat orang seperti dia…” Kemudian melalui bait-bait syairnya, beliau banyak memberikan pujian kepadanya.

Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya. Al-‘Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah berkata: “Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya”. Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan hujahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti terhenyak. Beliau mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan, pem- bagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku.”

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: “Dia adalah lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli. Pada zamannya, beliau adalah satu-satunya baik dalam hal ilmu, zuhud, keberanian, kemurahan, amar ma’ruf, nahi mungkar, dan banyaknya buku-buku yang disusun dan amat menguasai hadits dan fiqh.

Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya. Pada sisi lain Adz-Dzahabi mengatakan: “Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta’dil, Thabaqah-Thabaqah sanad, pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matan-matan hadits yang menyendiri padanya ….. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa menyamai atau mendekati tingkatannya ….. Adz-Dzahabi berkata lagi, bahwa: “Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukanlah hadist.

Demikian antara lain beberapa pujian ulama terhadap beliau.

Sejarah telah mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyah sebagai da’i yang tabah, liat, wara’, zuhud dan ahli ibadah, tetapi beliau juga seorang pemberani yang ahli berkuda. Beliau adalah pembela tiap jengkal tanah umat Islam dari kedzaliman musuh dengan pedannya, seperti halnya beliau adalah pembela aqidah umat dengan lidah dan penanya.

Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat Islam untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan sekitarnya. Beliau sendiri bergabung dengan mereka dalam kancah pertempuran. Sampai ada salah seorang amir yang mempunyai diin yang baik dan benar, memberikan kesaksiannya: “…… tiba-tiba (di tengah kancah pertempuran) terlihat dia bersama saudaranya berteriak keras memberikan komando untuk menyerbu dan memberikan peringatan keras supaya tidak lari …” Akhirnya dengan izin Allah Ta’ala, pasukan Tartar berhasil dihancurkan, maka selamatlah negeri Syam, Palestina, Mesir dan Hijaz.

Tetapi karena ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam mengajak kepada al-haq, akhirnya justru membakar kedengkian serta kebencian para penguasa, para ulama dan orang-orang yang tidak senang kepada beliau. Kaum munafiqun dan kaum lacut kemudian meniupkan racun-racun fitnah hingga karenanya beliau harus mengalami berbagai tekanan di pejara, dibuang, diasingkan dan disiksa.

Kehidupan penjara

Hembusan-hembusan fitnah yang ditiupkan kaum munafiqin serta antek-anteknya yang mengakibatkan beliau mengalami tekanan berat dalam berbagai penjara, justru dihadapi dengan tabah, tenang dan gembira. Terakhir beliau harus masuk ke penjara Qal’ah di Dimasyq. Dan beliau berkata: “Sesungguhnya aku menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan besar.”

Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata: “Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!! Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku dan tiada pernah tinggalkan aku. Aku, terpenjaraku adalah khalwat Kematianku adalah mati syahid. Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.

Beliau pernah berkata dalam penjara: “ Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang yang tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.”

Ternyata penjara baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah islahiyah-nya, tidak menghalanginya untuk berdakwah dan menulis buku-buku tentang Aqidah, Tafsir dan kitab-kitab bantahan terhadap ahli-ahli bid’ah.

Pengagum-pengagum beliau diluar penjara semakin banyak. Sementara di dalam penjara, banyak penghuninya yang menjadi murid beliau, diajarkannya oleh beliau agar mereka iltizam kepada syari’at Allah, selalu beristighfar, tasbih, berdoa dan melakukan amalan-amalan shahih. Sehingga suasana penjara menjadi ramai dengan suasana beribadah kepada Allah. Bahkan dikisahkan banyak penghuni penjara yang sudah mendapat hak bebas, ingin tetap tinggal di penjara bersamanya. Akhirnya penjara menjadi penuh dengan orang-orang yang mengaji.

Tetapi kenyataan ini menjadikan musuh-musuh beliau dari kalangan munafiqin serta ahlul bid’ah semakin dengki dan marah. Maka mereka terus berupaya agar penguasa memindahkan beliau dari satu penjara ke penjara yang lain. Tetapi inipun menjadikan beliau semakin terkenal. Pada akhirnya mereka menuntut kepada pemerintah agar beliau dibunuh, tetapi pemerintah tidak mendengar tuntutan mereka. Pemerintah hanya mengeluarkan surat keputusan untuk merampas semua peralatan tulis, tinta dan kertas-kertas dari tangan Ibnu Taimiyah.

Namun beliau tetap berusaha menulis di tempat-tempat yang memungkinkan dengan arang. Beliau tulis surat-surat dan buku-buku dengan arang kepada sahabat dan murid-muridnya. Semua itu menunjukkan betapa hebatnya tantangan yang dihadapi, sampai kebebasan berfikir dan menulis pun dibatasi. Ini sekaligus menunjukkan betapa sabar dan tabahnya beliau. Semoga Allah merahmati, meridhai dan memasukkan Ibnu Taimiyah dan kita sekalian ke dalam surganya.

Wafatnya

Beliau wafatnya di dalam penjara Qal’ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang muridnya yang menonjol, Al-‘Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah.

Beliau berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua puluh hari lebih. Selama dalam penjara beliau selalu beribadah, berdzikir, tahajjud dan membaca Al-Qur’an. Dikisahkan, dalam tiah harinya ia baca tiga juz. Selama itu pula beliau sempat menghatamkan Al-Qur’an delapan puluh atau delapan puluh satu kali.

Perlu dicatat bahwa selama beliau dalam penjara, tidak pernah mau menerima pemberian apa pun dari penguasa.

Jenazah beliau dishalatkan di masjid Jami’Bani Umayah sesudah shalat Zhuhur. Semua penduduk Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan jenazahnya, termasuk para Umara’, Ulama, tentara dan sebagainya, hingga kota Dimasyq menjadi libur total hari itu. Bahkan semua penduduk Dimasyq (Damaskus) tua, muda, laki, perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati kepergian beliau.

Seorang saksi mata pernah berkata: “Menurut yang aku ketahui tidak ada seorang pun yang ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya. Ketiga orang ini pergi menyembunyikan diri karena takut dikeroyok masa. “Bahkan menurut ahli sejarah, belum pernah terjadi jenazah yang dishalatkan serta dihormati oleh orang sebanyak itu melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad bin Hambal.

Beliau wafat pada tanggal 20 Dzul Hijjah th. 728 H, dan dikuburkan pada waktu Ashar di samping kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al-Islam Syarafuddin. Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyah, tokoh Salaf, da’i, mujahidd, pembasmi bid’ah dan pemusnah musuh. Wallahu a’lam.

(Dikutip: Ibnu Taimiyah, Bathal Al-Islah Ad-Diny. Mahmud Mahdi Al-Istambuli. Maktabah Dar-Al-Ma’rifah–Dimasyq )

Ibnu Qudamah Al Maqdisi

Beliau adalah seorang imam, ahli fiqih dan zuhud, Asy Syaikh Muwaffaquddin Abu Muhammad Abdullah Bin Ahmad Bin Muhammad Ibnu Qudamah al-Hanbali al-Almaqdisi. Beliau berhijrah ke lereng bukit Ash-Shaliya, Damaskus, dan dibubuhkanlah namanya ad-Damsyiqi ash-Shalihi, nisbah kepada kedua daerah itu. Dilahirkan pada bulan Sya’ban 541 H di desa Jamma’il, salah satu daerah bawahan Nabulsi, dekat Baitil Maqdis, Tanah Suci di Palestina.

Saat itu tentara salib menguasai Baitil Maqdis dan daerah sekitarnya. Karenanya, ayahnya, Abul Abbas Ahmad Bin Muahammad Ibnu Qudamah, tulang punggung keluarga dari pohon nasab yang baik ini hajrah bersama keluarganya ke Damaskus dengan kedua anaknya, Abu Umar dam Muwaffaquddin, juga saudara sepupu mereka, Abdul Ghani al-Maqdisi, sekitar tahun 551 H (Al-Hafidz Dhiya’uddin mempunyai sebuah kitab tentang sebab hijrahnya pendududk Baitul Maqdis ke Damaskus.

Di Damaskus mereka singgah di Masjid Abu Salih, di luar gerbang timur. Setelah dua tahun di sana, mereka pindahke kaki gunung Qaisun di Shalihia, Damaskus. Di masa-masa itu Muwaffaquddin menghafal Al Quran dan menimba ilmu-ilmu dasar kepada ayahnya, Abul’Abbas, seorang ulama yang memiliki kedudukan mulia srta seorang yang zuhud.Kemudian ia berguru kepada para ulama Damskus lainnya. Ia hafal Mukhtasar Al Khiraqi (fiqih madzab Imam Ahmad Bin Hambal) dan kitab-kitab lainnnya.

Ia memiliki kemajuan pesat dalam menkaji ilmu. Menginjak umur 20 tahun, ia pergi ke Bghdad ditemani saudara sepupunya, Abdul Ghani al-Maqdisi (anak saudara laki-laki ibunya) dan keduanya umurnya sama.

Muwaffaquddin semula menetap sebentar di kediaman Syekh Abdul Qadir Al-Jailani,di Baghdad. Saat itu Shaikh berumur 90 tahun. Ia mengaji kepada beliau Mukhtasar Al-Khiraqi denagan penuh ketelitian dan pemahaman yang dalam, karena ia talah hafal kitab itu sejak di Damaskus. Kemudian wafatlah Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah.

Selanjutnya ia tidak pisah dengan Syaikh Nashih al-Islam Abul Fath Ibn Manni untuk mengaji kepada belia madzab Ahmad dan perbandingan madzab. Ia menetap di Baghdad selama 4 tahun. Di kota itu juga ia mengaji hadis dengan sanadnya secara langsung mendengar dari Imam Hibatullah Ibn Ad-Daqqaq dan lainnya. Setelah itu ia pulang ke Damaskus dan menetap sebentar di keluarganya. Lalu kembali ke Baghdad tahun 576 H.

Di Baghdad dalam kunjungannya yang kedua, ia lanjutkan mengajihadis selama satu tahun, mendengar langsung dengan sanadnya dari Abdul Fath Ibn Al-Manni. Setelah itu ia kembali ke Damaskus.

Pada tahun 574 H ia menunaikan ibadah haji,seusai ia pulang ke Damaskus. Di sana ia mulai menyusun kitabnya Al-Mughni Syarh Mukhtasar Al-Khiraqi (fiqih madzab Imam Ahmad Bin Hambal). Kitab ini tergolong kitab kajian terbesar dalam masalah fiqih secarar umum, dan khususnya di madzab Imam Ahmad Bin Hanbal. Sampai-sampai Imam ‘Izzudin Ibn Abdus Salam As-Syafi’i, yang digelari Sulthanul ‘Ulama mengatakan tentang kitab ini: “Saya merasa kurang puas dalam berfatwa sebelum saya menyanding kitab al-Mughni”.

Banyak para santri yang menimba ilmu hadis kepada beliau, fiqih, dan ilmu-ilmu lainnya. Dan banyak pula yang menjadi ulama fiqih setelah mengaji kepada beliau. Diantaranya, kpeonakannya sendiri, seorang qadhi terkemuka, Syaikh Syamsuddin Abdur Rahman Bin Abu Umar dan ulama-ulama lainnya seangkatannya.

Di samping itu beliau masih terus menulis karya-karya ilmiah di berbagai disiplin ilmu, lebih-lebih di bidang fiqih yang dikuasainya denagn matang. Beliau banyak menulis kitab di bidang fiqih ini,ynag kitab-kitab karyanya membuktikan kamapanannya yang sempurna di bidang itu. Sampai-sampai ia menjadi buah bibir orang banyak dari segala penjuru yang membicarakan keutamaan keilmuan dan munaqib (sisi-sisi keagungannya).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: ”Setelah Al-Auza’i, tidak ada orang yang masuk ke negri Syam yang lebih mapan di bidang fiqih melebihi Al-Muwaffaq”.

Ibnu Ash-Shalah berkata: ”Saya tidak pernah melihat orang alim seperti Al-Muwaffaq”.

Cucu Ibn Al-Jauzi barkata: ”Orang yang melihat Al-Muwaffaq seakan-akan ia melihat salah seorang sahabat nabi. Seakan-akan cahaya memancar dari wajahnya.”

Imam Al-Muwaffaqiq adalh seorang imam di berbagai disiplin ilmu syar’i. Di zaman beliau, setelah saudaranya(Abu Umar), tiada orang yang lebih zuhud, lebih wara’ dan lebih mapan ilmunya melebihi beliau.

Beliau mengikuti jejek As-Salaf dalam masalah aqidah, kezuhudan, dan kewara’an. Beliau sangat pemalu, sangat menjauh dari gemerlapnya dunia dan dari pengejarnya. Beliau sosok yang pemaaf, tidak kaku dan sangat rendah hati, cinta kepada orang yang kesusahan, mulia akhlaknya, banyak berkorban untuk orang lain, tekun beribadah, kaya keutamaan, berotak cerdas, sangat jeli dalam ilmunya, sangat tenang, sedikit bicara, dan banyak kerja. Orang merasa tentram dan damai dengan sekedar memandang wajahnya walau sebelum beliau berbicara. Kebaikan dan kemuliaan sifat beliau tidak terhitung. Al-Hafidzh Dhiya’uddin al-Maqdisi, demikian juga al-Hafidzh Adz-Dzahabi, menulis sebuah kitab tentang biogrfi Imam Ibnu Qudamah ini.

Kemasyhuran Imam Ibnu Qudamah tidak terbatas pada masalah keilmuan dan ketaqwaan, akan tetapi beliau juga seorang mujahod yang terjun di medan jihad fisabilillah bersama pahlawan besar Shalahuddin al-Ayyubi yang berhasil menyatukan kekuatan militer umat Islam pada tahun 583 H untuk menumpas tentara salib dan membersihkan tanah suci Quds dari najis mereka. Para penulis biografi Imam Ibnu Qudamah menyebutkan bahwa belia dan saudara kandungnya, Abu Umar, beserta murid-murid beliau dan beberapa orang keluarganya turut berjihad di bawah panji-panij para mujahidin yang dimenangkan oleh Alloh ini. Beliau berdua dan murid-muridnya mempunyai satu kemah yang senantiasa berpindah-pindah kemanapun para mujahidin berpindah dan mengambil posisi.

Imam Ibnu Qudamah wafat pada hari Sabtu,tepat di hari Idul Fithri tahun 629 H. Beliau dimakamkan di kaki gunung Qasiun di Shalihiya, di sebuah lereng di atas Jami’ Al-Hanabilah (masjid besar para pengikut madzab Imam Ahmad Bin Hanbal).

Imam Al Ajurri

(wafat tahun 419H)

Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Al Husein bin Abdillah Al Baghdadi Al Ajurri. Kunyah beliau Abu Bakr. Beliau berasal dari sebuah desa di bagian barat kota Baghdad yang bernama Darbal Ajur. Beliau lahir dan tumbuh di sana.

Para Guru Beliau

Imam Al Ajurri menimba ilmu dari segolongan ulama terkenal, di antaranya :

Imam Ibrahim bin Abdillah bin Muslim bin Ma’iz Abul Muslim Al Bashri Al Kajji. Beliau adalah Al Hafidh [Orang yang banyak menghapal hadits lengkap dengan pengertian dan sanadnya], Al Mu’ammar, Shahibus Sunan [Penulis kitab Sunan]. Imam ini adalah guru terbesar Imam Al Ajurri. Syaikh Ibrahim dilahirkan sekitar tahun 190 H dan wafat tahun 292 H di Baghdad. Jenazah beliau kemudian dipindah ke Bashrah dan dimakamkan di sana.
Imam Abul Abbas Ahmad bin Sahl bin Al Faizuran Al Usynani. Beliau adalah Syaikhul Qurra’ [Pemimpin para pembaca Al Qur’an] di Baghdad. Beliau wafat pada tahun 307 H.
Imam Abu Abdillah Ahmad bin Al Hasan bin Abdil Jabbar bin Rasyid Al Baghdadi. Beliau bergelar Al Muhadits [Ahli Hadits] Ats Tsiqatul Mu’ammar. Beliau dilahirkan di Hudud tahun 210 H dan wafat tahun 306 H.
Imam Abu Bakr Ja’far bin Muhammad bin Al Hasan bin Al Mustafadl Al Firyani. Beliau adalah Al Hafidh Ats Tsabt [Tepat dan jeli dalam penyampaian riwayat] dan Syaikh di masanya. Beliau lahir pada tahun 207 H dan wafat pada tahun 301 H.
Imam Abu Bakr Al Qasim bin Zakaria bin Yahya Al Baghdadi. Beliau adalah Al ‘Allamah [‘Alim (pandai)], Al Muqri’ [Ahli Ilmu Qira’ah], Al Muhadits, Ats Tsiqah [Yang terpecaya]. Beliau terkenal dengan gelar Al Muthariz (penyulam). Beliau lahir di Hudud tahun 220 H dan wafat tahun 305 H.
Imam Abu Ja’far Ahmad bin Yahya bin Ishaq Al Bajali Al Hulwani. Beliau adalah Al Muhadits, Ats Tsiqah, Az Zahid [Yang zuhud]. Beliau tinggal di Baghdad dan wafat tahun 296 H.
Imam Abul Abbas Ahmad bin Zanjuwiyah bin Musa Al Qathan. Beliau adalah Al Muhadits, Al Mutqin [Yang mantap], dianggap tsiqah dan terkenal. Beliau wafat tahun 304 H.
Imam Abul Qasim Abdullah bin Muhammad bin Abdil Aziz bin Al Marzuban. Beliau adalah Al Hafidh, Al Hujjatul Mu’ammar, dan Al Musnid [Penulis kitab Musnad] di masanya. Berasal dari Bagha’ dan lahir pada tahun 214 H dan bertempat tinggal di Baghdad serta wafat tahun 317 H. Beliau dikebumikan pada hari Iedul Fithri.
Imam Abu Syu’aib Abdullah bin Al Hasan bin Ahmad bin Abu Syu’aib Al Harrani. Beliau adalah Al Muhadits, Al Mu’ammar, Al Mu’dab. Lahir tahun 206 H dan wafat tahun 295 H.
Imam Abu Muhammad Khalaf bin ‘Amr Al ‘Ukbari. Beliau adalah Al Muhadits, Ats Tsiqatul Jalil [Yang mulia dan dapat dipercaya]. Beliau lahir tahun 206 H dan wafat tahun 296 H.
Al Imam Abu Bakr Abdullah bin Sulaiman bin Al Asy’ats As Sijistani. Beliau adalah Al ‘Allamah, Al Hafidh, dan Syaikh di Baghdad. Beliau termasuk lautan ilmu. Sebagian orang ada yang menganggap bahwa beliau lebih utama daripada ayahnya. Beliau menulis Sunan, Mushaf, Syari’atul Qari’, Nasikh Mansukh, Al Ba’ts, dan lain-lain. Beliau lahir di Sijistan tahun 230 H dan wafat tahun 316 H.
Murid-Murid Beliau

Di antara murid-murid beliau yang terkenal adalah :

Imam Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah bin Ahmad Al Mihrani Al Ashbahani. Beliau adalah Al Hafidh, Ats Tsiqah, Al ‘Allamah. Beliau adalah cucu Az Zahid Muhammad bin Yusuf Al Banna’. Beliau adalah penulis kitab Al Hilyah dan banyak karya lainnya. Beliau lahir tahun 336 H dan wafat tahun 425 H.
Imam Abul Qasim Abdul Malik Muhammad bin Abdillah bin Bisyran. Beliau adalah Al Muhaddits, Al Musnid, Ats Tsiqah, Ats Tsabt, Ash Shalih [Orang yang shalih], Pemberi Nasihat, dan Musnid Irak. Beliau lahir tahun 339 H dan wafat tahun 430 H.
Imam Abul Husein Ali bin Muhammad bin Abdullah bin Bisyran. Beliau adalah Asy Syaikh, Al ‘Alim, Al Mu’adil, Al Musnid. Al Khatib berkata tentang beliau : “Dia sempurna muru’ah [Kewibawaan]-nya, kokoh menjalankan agama, shaduq [Sangat jujur], dan tsabit.” Beliau lahir tahun 328 H dan wafat tahun 415 H.
Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Umar At Tajibi Al Mishri Al Maliki Al Bazzaz. Beliau adalah Asy Syaikh, Al Fakih, Al Muhadits, Ash Shaduq, dan Musnid Mesir. Beliau terkenal dengan gelar Ibnu Nahhas. Beliau lahir tahun 323 H dan wafat tahun 416 H.
Imam Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Umar bin Hafsh Al Hamami Al Baghdadi. Beliau adalah Al Muhadits dan Muqri’ Irak. Al Khatib mengatakan bahwa beliau sangat jujur, taat beragama, terhormat, sulit dicari tandingannya dalam sanad-sanad qira’ah dan memiliki ketinggian sanad di masanya. Lahir 328 H dan wafat 417 H.
Al Imam Abu Bakr bin Abu Ali Ahmad bin Abdurrahman Al Hamadani Adz Dzakwan Al Ashbahani. Beliau adalah Al ‘Alim, Al Hafidh, dan termasuk Rijal Ats Tsiqah. Abu Nu’aim mengatakan tentang beliau : “Dia mempersaksikan dan menyampaikan hadits selama 60 tahun, akhlaknya baik dan kokoh madzhabnya. Beliau lahir tahun 333 H dan wafat tahun 419 H.
Syaikh Abul Husein Muhammad bin Al Husein bin Muhammad bin Al Fadl Al Baghdadi Al Qahthani. Beliau adalah Al ‘Alim, Ats Tsiqat, Al Musnid [Orang yang menjadi rujukan sanad hadits]. Beliau lahir tahun 335 H dan wafat tahun 415 H.
Keilmuan Beliau Dan Komentar Para Ulama Tentangnya

Ibnu Nadim berkata : “Dia faqih, shalih, dan ahli ibadah.”
Al Khatib berkata : “Dia tsiqah, shaduq (sangat jujur), taat beragama, dan memiliki banyak karya.”
Ibnu Jalkan berkata : “Dia faqih, bermadzhab Syafi’i, muhadits, penulis kitab Arba’in dan terkenal dengannya, shalih dan ahli ibadah.”
Yaqut berkata : “Dia faqih bermadzhab Syafi’i, tsiqah, dan menulis banyak karya.”
Ibnul Jauzi dalam kitab As Shawatus Shafwah mengatakan : “Dia tsiqah, taat beragama, alim, dan banyak menulis karya.”
Ibnu Subki dalam Thabaqat-nya mengatakan : “Dia faqih, muhadits, pemilik beberapa karangan.”
Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala’ berkata : “Dia seorang imam, muhadits, panutan, Syaikh di Al Haram, shaduq, ‘abid [Ahli ibadah], shahibus sunan, dan ahli ittiba’ [Pengikut sunnah].”
Suyuthi mengatakan : “Dia ‘alim dan mengamalkan ilmu ahli sunnah.”
Dari ucapan para ulama di atas diketahui bahwa beliau termasuk ulama yang beramal dengan ilmunya, seorang faqih yang ahli hadits, serta penjaga Kitabullah. Para ulama tersebut juga sepakat bahwa beliau termasuk orang yang tsiqat dan berpegang teguh dengan sunnah. Beliau juga seorang pengarang yang meninggalkan pengaruh yang jelas dalam perbendaharaan Islam.

Karya-Karya Beliau

Imam Al Ajurri mewariskan beberapa karya diantaranya yang telah dicetak: Akhlaq Ahlil Qur’an, Akhlaqul Ulama, Akhbar Umar bin Abdil Aziz, Al Arba’in Haditsan, Al Ghuraba’, Tahrimun Nard was Satranji wal Malahi, Asy Syari’ah, At Tashdiq bin Nadhar Ilallah.

Berupa Manuskrip (Tulisan Tangan): Adabun Nufus, Ats Tsamainin fil Hadits, Juz’un min Hikayat As Syafi’i wa Ghairihi, Fardlu Thalabil Ilmi, Al Fawaid Al Muntakhabah, Wushulul Masyaqin wa Nuzhatul Mustami’in.

Karaya-karya beliau yang Hilang: Ahkamun Nisa’, Akhlaq Ahli Bir wat Tuqa, Aushafus Sab’ah, Taghyirul Azminah, At Tafarud wal ‘Uzlah, At Tahajud, At Taubah, Husnul Khuluq, Ar Ru’yah, Ruju’ Ibni Abbas ‘anis Sharf, Risalah ila Ahlil Baghdad, Syarah Qasidah As Sijistani, As Syubuhat, Qishatul Hajaril Aswad wa Zam-Zam wa Ba’du Sya’niha, Qiyamul Lail wa Fadllu Qiyamir Ramadlan, Fadllul Ilmi, Mukhtasharul Fiqh, Mas’alatut Tha’ifin, An Nasihah.

Wafat Beliau

Sebagian para ulama mengatakan bahwa ketika beliau masuk ke kota Mekkah yang beliau kagumi, beliau berdo’a : “Ya Allah, berilah rezki kepadaku dengan tinggal di sana selama setahun.” Lalu beliau mendengar bisikan: “Bahkan 30 tahun!” Akhirnya beliau tinggal selama 30 tahun dan wafat di sana tahun 320 H. demikian keterangan Ibnu Khalqan.

Al Khatib berkata: “Aku membaca cerita itu di lantai kubur beliau di Mekkah.” Ibnul Jauzi berkata bahwa Abu Suhail Mahmud bin Umar Al Akbari berkata bahwa ketika Abu Bakr sampai di Mekkah dia merasa kagum dengannya dan berdo’a: “Ya Allah, hidupkan aku di negeri ini walau hanya setahun.” Tiba-tiba ia mendengar bisikan: “Hai Abu Bakr, kenapa hanya setahun? Tiga puluh tahun!” Ketika menginjak tahun ketiga puluh, beliau mendengar bisikan lagi: “Wahai Abu Bakr, sudah kami tunaikan janji itu.” Kemudian wafatlah beliau di tahun itu.

Madzhab Beliau

Beliau bermadzhab Syafi’i menurut sebagian ulama. Namun ulama lain seperti Al Isnawi mengatakan bahwa sebagian orang membantah ke-Syafi’i-an beliau dan mengatakan bahwa beliau bermadzhab Hanbali. Al Isnawi mengatakan hal itu setelah dia mengatakan bahwa Imam Al Ajurri pengikut madzhab Syafi’i. Demikian pula keterangan Abu Ya’la dalam kitab beliau Tabaqat Al Hanabilah.

Sumber-Sumber Biografi Beliau

Riwayat hidup beliau yang penuh barakah ditulis dalam beberapa kitab para ulama. Di antaranya: Al Fahrasat. Ibnu Nadim halaman 268., Tarikh Baghdad. Al Khatib 2/243., Tabaqatul Hanabilah. Ibnu Abi Ya’la halaman 332., Al Ansab. As Sam’ani 1/94., Fahrasah Ibni Khairil Isybaili. Halaman 285-286., Wafiyatul A’yan. Ibnu Khukan 4/292., Mu’jamul Buldan. Yaqut Al Hamawi 1/51., Siyar A’lamin Nubala’. Adz Dzahabi 16/133., Thabaqatus Syafi’iyah. Al Isnawi 1/50., Al ‘Aqduts Tsamin. Al Fasi 2/4., Thabaqatul Hufadh. As Suyuthi halaman 378., Syajaratudz Dzahab. Ibnul ‘Imad 3/35.; Sumber:Al Ghuraba’ minal Mukminin, Al Ajurri

Imam Ath Thahawi

(239-321 H)

Nama Dan Nasabnya

Beliau adalah Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah bin Abdil Malik al-Azdy al-Mishri ath-Thahawi.

Al-Azdy adalah qabilah terbesar Arab, suku yang paling masyhur, dan paling banyak furu’ (cabang suku) nya. Juga merupakan bagian dari qabilah Qahthaniyah, dinasabkan kepada al-Azdi bin al-Ghauts bin Malik bin Zaid bin Kahlan.

Beliau adalah Qahthani dari sisi bapaknya dan adnani dari sisi ibunya karena ibunya seorang Muzainah, yakni saudara al-Imam al-Muzanni shahabat imam Syari’i.

Al-Azdy adalah qabilah terbesar Arab, suku yang paling masyhur, dan paling banyak furu’ (cabang suku) nya. Juga merupakan bagian dari qabilah Qahthaniyah, dinasabkan kepada al-Azdi bin al-Ghauts bin Malik bin Zaid bin Kahlan.

Beliau adalah Qahthani dari sisi bapaknya dan adnani dari sisi ibunya karena ibunya seorang Muzainah, yakni saudara al-Imam al-Muzanni shahabat imam Syari’i.

Dan termasuk seorang Hajri, saudara sepupu dari al-Azdi, yakni Hajr bin Jaziilah bin Lakhm, yang disebut Hajr al-Azdi, supaya berbeda dengan Hajr Ru’ain.

Dan ath-Thahawi dinasabkan pada Thaha sebuat desa di Sha’id Mesir.

Lahirnya Dan Zamannya

Mengenai kelahiran Imam Thahawi tahun 239 H, maka seperti yang diriwayatkan Ibnu Yunus muridnya yang kemudian diikuti oleh sebagian besar orang yang menulis riwayat hidupnya dan inilah yang besar. Memang ada yang menyatakan beliau lahir tahun 238 H, dan bahkan ada yang menyatakan tahaun 229 H. Ini tentu saja suatu tahrif (kekeliruan) penulisan, yang kemudian dikutip beberapa orang tanpa merujuk kembali kepada kitab lainnya.

Disepakati para ulama bahwa beliau wafat tahun 321 H, kecuali Ibn an-Nadim yang menyatakan beliau wafat tahun 322 H.

Imam athThahawi adalah sezaman dengan para imam ahli Huffazh para pengarang/penyusun enam buku induk hadits (al-Kutub as-Sittah), dan bersama-sama dengan mereka dalam riwayat hadits.

Umur beliau ketika imam Bukhari wafat adalah 17 tahun, ketika imam Muslim wafat ia berumur 22 tahun, ketika imam Abu Dawud wafat ia berumur 36 tahun, ketika imam Tirmidzi wafat berumur 40 tahun dan ketika Nasa’i wafat ia berumur 64 tahun, dan ketika imam Ibnu Majah wafat ia berumur 34 tahun.

Asal Muasalnya

Adalah beliau rahimahullah bermula dari rumah yang berlingkungan ilmiah dan unggul. Bapaknya, Muhammad bin Salaamah adalah seorang cendekiawan ilmu dan bashar dalam syi’ir dan periwayatannya. Sedangkan ibunya termasuk dalam Ash-haab asy-Syafi’i yang aktif dalam majlisnya. Kemudian pamannya adalah imam al-Muzanni, salah seorang yang paling faqih dari Ash-haab asy-Syafi’i yang banyak menyebarkan ilmunya.

Sebagian besar menduga bahwa dasar kecendekiawanannya adalah di rumah, yang kemudian lebih didukung dengan adanya halaqah ilmu yang didirikan di masjid Amr bin al-‘Ash. Menghafal al-Qur’an dari Syeikhnya, Abu Zakaria Yahya bin Muhammad bin ‘Amrus, yang diberi predikat: “Tidak ada yang keluar darinya kecuali telah hafal al-Qur’an.” Kemudian bertafaquh (belajar mendalami agama-red.,) pada pamannya –al-Muzanni, dan sami’a (mendengar) darinya kitab Mukhtasharnya yang bersandar pada ilmu Syafi’i dan makna-makna perkataannya. Dan beliau adalah orang pertama yang belajar tentang itu. Ia juga menukil dari pamannya itu hadits-hadits, dan mendengar darinya periwayatan-periwayatannya dari Syafi’i tahun 252 H. Beliau juga mengalami masa kebesaran pamannya, al-Muzanni. Pernah bertamu dengan Yunas bin Abdul A’la (264 H), Bahra bin Nashrin (267 H), Isa bin Matsrud (261 H) dan lain-lainnya. Semuanya adalah shahabat Ibn Uyainah dari kalangan ahlu Thabaqat.

Pindah Madzhab Dari Syafi’i Ke Hanafi

Ketika umurnya mencapai 20 tahun, ia meninggalkan madzhab yang telah ia geluti sebelumnya yakni madzhab Syafi’i ke madzhab Hanafi dalam bertafaqquh, disebabkan beberapa faktor:

Karena beliau menyaksikan bahwa pamannya banyak menelaah kitab-kitab Abi Hanifah.
Tulisan-tulisan ilmiah yang ada, yang banyak disimak para tokoh madzhab Syafi’i dan madzhab Hanafi.
Tashnifat (karangan-karangan) yang banyak dikarang oleh kedua madzhab itu yang berisi perdebatan antara kedua madzhab itu dalam beberapa masalah. Seperti karangan al-Muzanni dengan kitabnya al-Mukhtashar yang berisi bantahan-bantahan terhadap Abi Hanifah dalam beberapa masalah.
Banyaknya halaqah ilmu yang ada di masjid Amr bin al-‘Ash tetangganya mengkondisikan beliau untuk memanfaatkannya dimana di sana banyak munasyaqah (diskusi) dan adu dalil dan hujjah dari para pesertanya.
Banyak syeikh yang mengambil pendapat dari madzhab Abi Hanifah, baik dari Mesir maupun Syam dalam rangka menunaikan tugasnya sebagai qadli, seperti al-Qadli Bakar bin Qutaibah dan Ibnu Abi Imran serta Abi Khazim.
Akan tetapi perlu diketahui bahwa perpindahan madzhabnya itu tidaklah bertujuan untuk mengasingkan diri dan mengingkari madzhab yang ia tinggalkan, karena hal ini banyak terjadi di kalangan ahli ilmu ketika itu yang berpindah dari satu madzhab ke madzhab lainnya tanpa meningkari madzhab sebelumnya.

Bahkan pengikut Syafi’i yang paling terkenal sebelumnya adalah seorang yang bermadzhab Maliki, dan diantara mereka ada yang menjadi syeikhnya (gurunya) ath-Thahawi. Tidak ada tujuan untuk menyeru pada ‘ashabiyah (fanatisme-red.,) atau taklid, tetapi yang dicari adalah dalil, kemantapan, dan hujjah yang lebih mendekati kebenaran.

Syuyukh (Para Guru) Beliau

Al-Imam al-‘Allaamah, Faqihul Millah, ‘Alamuz Zuhad, Isma’il bin Yahya bin Isma’il bin ‘Amr bin Muslim al-Muzanni al-Mishri. Salah satu sahabat Syafi’i yang mendukung madzhabnya, wafat tahun 264 H. Karangannya antara lain al-Mukhtashar, al-Jami’ al-Kabir, al-Jami’ ash-Shaghir, al-Mantsur, al-Masa-il al-Mu’tabarah, Targhib fil ‘Ilmi, dan lain-lainnya. Ia adalah orang pertama yang dinukilkan haditnya oleh ath-Thahawi, dan kepadanya belajar di bawah madzhab Syafi’i, menyimak dari beliau juga kitab Mukhtasharnya serta kumpulan hadits-hadits Syafi’i.
Al-Imam al-‘Allaamah, syaikhul Hanafiyah, Abu Ja’far Ahmad bin Abi Imran Musa bin Isa al-Baghdadi al-Faqih al-Muhaddits al-Hafizh, wafat tahun 280 H. Beliau disebut sebagai lautan ilmu, disifatkan sangat cerdas dan kuat hafalannya, banyak meriwayatkan hadits dengan hafalannya. Dan beliau adalah seorang yang paling berpengaruh atas ath-Thahawi dalam madzhab Abi Hanifah. Adalah ath-Thahawi sangat membanggakan gurunya ini dan banyak meriwayatkan hadits-hadits dari beliau.
Al-Faqih al-‘Allamah Qadli al-Qudlat Abu Khazim Abdul Hamid bin Abdil Aziz as-Sakuuni al-Bishri kemudian al Baghdadi al-Hanafi. Menjabat Qadli di Syam, Kufah dan Karkh, Baghdad. Dan dipuji selama menjalankan jabatannya. Ath-Thahawi belajar kepada beliau ketika menjadi tamu di Syam tahun 268 H. Beliau menguasai madzhab Ahlul Iraq hingga melampaui guru-gurunya. Seorang yang tsiqah, patuh pada dien, dan wara’. Seorang yang ‘alim, paling piawai dalam beramal dan menulis, cendekia disertai watak pemberani, sangat dewasa dan cerdik, pandai membuat permisalah untuk memudahkan akal. Wafat tahun 292 H.
Al-Qadli al Kabir, al-‘allaamah al-Muhaddits Abu Bakrah Bakkar bin Qutaibah al-Bishri, Qadli al-Qudlat di Mesir, wafat tahun 270 H. Seorang yang ‘alim, faqih, muhaddtis, mempunyai kedudukan yang terhormat, dan agung, bila dalam kebenaran tidak takut celaan orang yang mencela, zuhud, shaleh dan istiqamah. Imam Thahawi bertemu dengan beliau ketika ia masih seorang pemuda, menyimak dari beliau, banyak pengaruhnya atas dirinya. Banyak mengambil riwayat dari beliau, dan banyak menimpa dari beliau ilmu Hadits serta tidak pernah absen dari majlisnya ketika mendiktekan hadits.
Al-Qadli al-‘Allaamah al-Muhaddtis ats Tsabit, Qadli al Qudlat, Abu Ubaid Ali bin al Husain bin Harb Isa al Baghdadi, salah seorang shahabat Syafi’i, wafat tahun 319 H. Sangat piawai dalam Ulumul Qur’an dan hadits, sangat pendai dalam masalah ikhtilaf dan ma’ani serta qiyas fashih, berakal, lemah lembut, suka menyatakan kebenaran.
Al-Imam al-Hafizh ats-Tsabit, Abu Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib bin Ali bin Sinan bin Bahr al-Khurrasani an Nasa’i, wafat tahun 303 H. Berkata Dzahabi: “Beliau adalah orang yang paling piawai dalam hadits dan ‘ilal. Dan rijalnya dari Muslim dan dari Abi Dawud dan dari Abi Isa (at-Turmudzi-red.,). Dan beliau adalah tetangga dengan Imam Bukhari dan Abu Zur’ah di masa tuanya.
Al-Imam Hafizh, syaikhul Islam, Abu Musa Yunus bin Abdul A’la Shadari al-Mishri, wafat tahun 264 H. Belajar pada Syafi’i, membaca al-Qur’an pada Warsy, shahabat Nafi’, menyimak hadits dari Syafi’i, Sufyan bin Uyainah, dan Abdullah bin Wahab dan mengumpulkannya. Termasuk orang yang termasyhur dalam keadilannya dan ulama’ di zamannya di Mesir, ditsiqahkan oleh Nasa’i.
Al-Imam al-Muhaddits al-Faqih al-Kabir, Abu Muhammad ar Rabi’ bin Sulaiman al-Muradiy al-Mishri. Seorang shahabat Syafi’i dan mewarisi ilmunya. Wafat tahun 270 H. Banyak hadits yang diriwayatkan dari beliau, panjang umurnya, masyhur namanya, banyak menimba ilmu darinya para ashabul hadits, syaikh yang sangat disukai, menghabiskan umurnya dalam ilmu dan menyebarkannya, akan tetapi beliau tergolong seorang hufazh (ahli menghafal, maka dikatakan oleh Nasa’i: Laa ba’sa bihi).
Syaikhul Imam ash-Shadiq, Muhaddits Syam, Abu Zur’ah Abdurrahman bin amr bin Abdullah bin Shafwan bin Amr an-Nashri ad-Dimasyqi. Wafat tahun 281 H. Seorang yang tsiqah, shaduq. Mempunyai karangan mengenai Tarikh Dimasyq.
Al-Imam al-Hafizh al-Mutqin, Abu Ishaq Ibrahim bin Abi Dawud Sulaiman bin Dawud al-Azdi al-Kufi asli, lahirnya di Syria, dan rumahnya di al-Barlusi. Wafat tahun 270 H. Disifatkan oleh Ibnu Yunas bahwa beliau salah seorang hufazh al-Mujawwidin, tsiqah dan tsabit.
Al-Hafidz Abu Bakr Ahmad bin Abdullah bin al-Barqi. Wafat tahun 270 H. Menyimak dari Amr bin Abi Salmah dan thabaqatnya, mempunyai karangan tentang mengenal shahabat dan termasuk seorang hufazh yang mutqin.
Al-Hafizh al-Hujjah, Abu Ishaq Ibrahim bin Marzuq al-Bishri, menjadi tamu di Mesir. Wafat tahun 270 H. Berkata Nasa’i, “Periwayat yang diterima haditsnya (Shalih)”. Berkata Ibnu Yunas: “Tsiqah, tsabit”.
Al-Imam al-Hujjah, Abu Ishaq Ibrahim bin Munqidz bin Isa al-Khaulani Maulahum al-Mishri al-‘Ushfuri, wafat tahun 269 H. Berkata Abu Sa’id bin Yunas: “Beliau tsiqah ridla”.
Al-Imam al-Muhaddits ats-Tsiqah, Abu Abdullah Bahr bin Nashr bin Sabiq al-Khaulani maulahum al-Mishri, wafat tahun 267 H. Ditsiqahkan Abi Hatim dan Yunus bin Abdul A’la, dan Ibnu Khuzaimah.
Al-Hafizh ats-Tsabit, Abu Ali al-Husain bin Ma’arik al-Baghdadi, suami saudara perempuan al Hafidz Ahmad bin Shalih, menjadi tamu di Mesir. Wafat tahun 261 H. Berkata Ibnu Yunus: “ Tsiqah, tsabit”.
Ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Azdi maulahum, al-Mishri al-Jiizi al-A’raj. Wafat tahun 256 H. Berkata ibnu Yunus: “Tsiqah”.
Abu Ja’far Abdul Ghani bin Rifa’ah bin Abdul Malik al-Lakhmi al-Mishri. Wafat tahun 255 H. Meriwayatkan dari beliau Abu Dawud, Ibrahim bin Matawaih al-Ashbahani dan Abu Bakar bin Abi Dawud.
Al-Imam al-Hafizh ash-Shaduq Abul Hasan Ali bin Abdul Aziz al-Baghawi. Syaikh al-Haram al-Makki, mushannif kitab Al Musnah. Wafat tahun 280 H. Berkata Daruquthni: “Tsiqah, terpercaya”
Al-Imam al-Faqih al-Muhaddits Abu Musa Isa bin Ibrahim bin Matsrad al-Ghafiqi maulahum, al-Mishri. Seorang sandaran yang tsiqah. Wafat tahun 261 H. Berkata Nasa’i: “Laa ba’sa”. Dan berkata Maslamah bin Qasim: “Tsiqah”.
Al-Imam al-Muhaddits ats-Tsiqah, syaikhul Haram, Abu Ja’far Muhammad bin Isma’il bin Salim al Qurasyi al-‘Abbasi maulaal Mahdi Al Baghdadi menjadikan tamu di Makkah. Wafat tahun 276 H. Berkata Ibnu Abi Hatim: “Shaduq”.
Al-Imam syaikhul Islam, Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Abdul hakim bin A’yah bin Laits al-Mishri al-Faqih. Cendekiawan negeri Mesir di zamannya bersama al-Muzanni. Wafat tahun 268 H. Berkata Ibnu Khuzaimah: “Aku belum pernah melihat orang yang lebih pandai dari kalangan fuqaha’ tentang perkataan para shahabat dan tabi’in dari Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakim, dan merupakan orang yang paling alim di kolong bumi dengan madzhab Maliki.” Berkata Abi Hatim: “Ibnu Abdul hakim tsiqah, shaduq, seorang fuqaha Mesir dari madzhab Maliki”.
Al-Imam al-Hafizh al-Mujawwid Abu Bakar Muhammad bin ali bin Dawud bin Abdullah al-Baghdadi, menjadi tamu di Mesir. Dikenal dengan sebutan Ibnu Ukhti Ghazaal. Berkata Yunus: “Seorang penghafal hadits dan memahaminya. Seorang yang tsiqah, hasan haditsnya”. Wafat tahun 264 H.
Al-Imam al-‘Allaamah al-Hafizh, syaikhul Baghdad, Abu Bakar Abdullah bin sulaiman bin al-Asy’ats as-Sajistaani, wafat tahun 316 H. Mengarang as-Summah, al-Mashaahif, Syari’ah al-Muqaari’, Nasikh wal Mansukh, al-Ba’ts dan lainnya. Seorang yang faqih, alim dan hafizh.
Al-Imam al-Muhaddits al-Adl, Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Sulaiman bin Rabi’ah bin ash-Shaiqah ‘Allaan al-Mishri. Wafat tahun 317 H. Seorang yang tsiqah, banyak meriwayatkan hadits, salah seorang yang terkenal adil.
Al-Iman al-Hafizh al-Baari’, Abu Bisyrin Muhammad bin Ahmad bin Hammad bin Sa’id bin Muslim al-Anshari ad-Duulabi. Wafat tahun 310 H. Beliau adalah pengarang kitab al-Kunniy wal Asma’. Berkata Daruquthni: “banyak digunjingkan, tidak jelas perkaranya kecuali beliau adalah seorang yang baik”.
Al-Iman al-Kabir al-Hafizh ats-Tsiqah, Abu Zakaria Yahya bin Zakaria bin Yahya an-Naisaburi al-A’raj. Wafat tahun 307 H. Berkata Ibnu Yunus: “Seorang hafizh, terhormat dan mulia”.
Al-‘Allaamah al-Hafizh al-Akhbaari, Abu Zakaria Yahya bin Utsman bin Shalih bin Shafwan as-Sahmi al-Mishri. Wafat tahun 282 H. Berkata Ibnu Yunus: “Seorang alim dengan ahbar Mesir, dan tentang meninggalkan ulama, penghafal hadits, dan meriwayatkan hadits yang tidak ditemukan di orang lain”.
Al-Imam ats-Tsiqah al-Musannid, Abu Yazid Yusuf bin Yazid bin Kamil bin Hakim al-Umawi maulahum al-Qurathisi. Wafat tahun 287 H. Seorang yang alim, banyak meriwayatkan hadits, pemberani, panjang umur dan pernah melihat Syafi’i.
Al-Imam al-Hafizh al-Mujawwid ar-Rahhal, Abu Umayyah Muhammad bin Ibrahim bin Muslim al-Baghdadi, kemudian ath-Thurasusi, menjadi tamu di ThuTharsusi dan menjadi muhadditsnya di sana, pengarang Al Musnad dan mempunyai beberapa mushannifat. Wafat tahun 273 H.
Al-Imam al-‘Allaamah al-Mutqin, al-Qadli al-Kabir, Abu Ja’far Ahmad bin Ishaq bin Buhlul bin hasan an-Tanwikhi al-Anbari, al-Faqih al-Hanafi. Wafat tahun 318 H.
Al-Imam al-Hafizh al-Mujawwid, Abu Ha’far Ahmad bin Sinan bin Asad bin Hibban al-Wasithi al-Qaththan. Wafat tahun 258 H. Berkata Abi Hatim: “Beliau seorang imam di zamannya, seorang yang tsiqah shaduq”.
Al-Imam al-Hafizh ats-Tsabit Syaikhul Waqti Abu Bakar Ja’far bin Muhammad bin al-Hasan bin al-Mustafaadl al-Firyaabi al-Qadli. Wafat tahun 301 H. Berkata Khuthaib al-Baghdadi: “Tsiqah, hujjah, gudang ilmu”.
Rauh bin Farj Abu Zinba’ bin Farj bin Abdirrahman al-Qaththan maulanan Zubair bin al-‘Awwam. Wafat tahun 282 H. Seorang alim, faqih di madzhab Maliki, seorang yang paling tsiqah di zamannya dan meninggikannya dengan ilmu, mempunyai riwayat dalam qira’ah dari, Ashim Yahya bin Sulaiman al-Ju’fi. Adalah imam Thahawi mengambil qira’ah dari huruf demi huruf, dari Yahya bin Sulaiman al-Ju’ri, dari Abi Bakar bin ‘Iyasy, dari ‘Ashim bin Bahdalah Abi an-Nujud, seperti yang ia nyatakan dalam kitabnya ini juz I hal 227 dan 263.
Mahmud bin Hasan an-Nahwi Abu Abdullah. Wafat tahun 272 H. Berkata Ibnu Yunus dalam Tarikh Mishri: “Seorang ahli nahwu, ahli tajwid, meriwayatkan dari Abul Malik bin Hisyam dari Abi Zaid dari Abi Amr bin al-‘Ala.
Al-Walid bin Muhammad at-Tamimi an-Nahwi, yang termasyhur dengan sebutan Wullaad. Wafat tahun 263 H. Seorang ahli nahwu, ahli tajwid, tsiqah, berasal dari Bashrah.
Sifat-Sifatnya

Adalah ath-Thahawi rahimahullah seorang hafizh (penjaga dan penghafal) kitab Allah, yang mengerti hukum-hukumnya dan maknanya, dan terhadap atsar dari shahabat dan tabi’in terhadap tafsir ayat-ayatnya, asbabun nuzulnya.

Mempunyai wawasan yang menakjubkan dengan ilmu qira’ah. Penghafal hadits, luas jangkauan pengenalannya terhadap thuruq (jalan-jalan) hadits, matan, illah dan ahwalnya, rijal-rijalnya, banyak menelaah madzhab para shahabat dan tabi’in serta para imam yang mepat yang diikuti dan para imam mujtahid yang lain.

Seperti Ibrahim an-Nakha’i, Utsman al-Batti, Auza’i, ats-Tsauri, Laits bin Sa’d, Ibnu Syubrumah, Ibnu Abi Laila dan al-Hasan bin Hay. Sangat piawai dalam ilmu Syurut dan Watsaiq. Seorang yang sangat jeli dalam membahas suatu masalah. Tidak bertaklid pada seorangpun, tidak dalam masalah ushul (pokok), dan tidak dalam masalah furu’. Beliau berputar bersama kebenaran yang berdasar pada ijtihadnya. Mengikuti manhaj salaf dalam aqidah. Dan atas manhaj ini pula beliau mengarang kitab aqidah yang masyhur (yakni Aqidah ath-Thahawiyah, pen.). Sangat memperhatikan apa yang beliau dengan dalam majelis ilmu, dan kemudian diulangi kembali setelah selesai majlis, mengklasifikasikan secara rinci riwayat-riwayat yang ia terima dan menyusunnya dalam mushannafnya.

Sifat inilah yang mengantarkannya untuk menyusun mushannafat yang banyak menurut babnya. Dan beliau adalah seorang yang lapang dada, baik akhlaqnya, baik dalam pergaulan, bertindak tanduk sopan, memberi nasehat para pemimpin, dengan penuh tawadlu’, dekat dengan para qadli dan ahli ilmu, menghadiri halaqah ilmu dan menukil riwayat dari sana. Orang-orang yang berbeda pendapat dan sependapat dengan beliau mengakui kewara’annya dan kezuhudannya, lemah lembut terhadap keluarga, jauh dari rasa ragu-ragu. Ketsiqahan ulama pada beliau mencapai puncaknya ketika Abu Ubaid bin Harbawaih – salah seorang shahabat Syafi’i mengakui keadilannya dan menerima syafa’atnya.

Ath-Thahawi Seorang Imam Mujtahid

Ath-Thahawi telah belajar madzhab Syafi’i kepada pamannya al-Muzanni, kemudian mempelajari madzhab Hanafi, dan tidak berta’ashub pada salah seorang imam pun. Akan tetapi memilih perkataan yang ia anggap paling benar berdasarkan kekuatan dalilnya. Dan jika salah seorang imam menyamai pendapatnya maka disebabkan kesamaan yang berdasarkan dalil dan hujjah, tidak karena taklid.

Keadaannya seperti keadaan para ulama semasanya, yang tidak ridla dengan taklid. Tidak kepada ahli hapal hadits dan tidak pula kepada para ulama fiqih. Berkata Ibnu Zaulaq: “Aku mendengar Abu hasan Ali bin Abi Ja’far ath-Thahawi berkata: Aku mendengar bapakku berkata dan disebutkan keutamaan Abi Ubaid bin harbawaih dan fiqihnya lalu berkata: Ketika itu ia mengingatkan aku dalam satu masalah. Maka aku jawab masalah itu. Tetapi beliau berkata kepadamu: Bagaimana ini, kenapa memakai perkataan Abu Hanifah? Maka aku katakan kepadamu: Wahai Qadli, apakah setiap perkataan yang diucapkan Abu Hanifah aku katakan juga? Beliau berkata: Aku tidak mengira engkau kecuali seorang muqallid (suka mengikuti saja). Aku jawab: Apakah ada orang yang bertaklid kecuali orang yang berta’ashub (fanatik buta)? Beliau menambahi: Atau orang yang bodoh? Berkata: Maka menjadilah kalimat ini masyhur di Mesir hingga semacam menjadi pameo yang dihafal manusia.

Dan tidak ada yang menghalanginya untuk berijtihad karena beliau telah menguasai ilmu perangkatnya. Beliau adalah seorang hafidz. Luas telaahnya, dalam pemahamannya, luas cakrawala tsaqafahnya, ahli dalam mengenali hadits dan periwayatannya, piawai dalam mencari illat hadits serta mahir dalam ilmu fiqih dan bahasa Arab.

Berkata Imam al-Laknawi dalam al-Fawaid al-Bahiyah hal. 31; Bahwa Imam Thahawi mempunyai derajat yang tinggi dan urutan yang mulia. Banyak menyelisihi shahibul madzhab (pendiri madzhab) dalam masalah ushul maupun masalah furu’. Barang siapa yang menelaah kitab Syarh Ma’anil Atsar dan karangan-karangannya yangn lain maka akan mendapati bahwa beliau banyak menyelisihi pendapat yang dipilih para pemimpin madzhabnya jika yang mendasari pendapatnya itu sangat kuat. Yang benar beliau adalah salah seorang mujtahid, akan tetapi manusia tidak bertaklid kepada beliau. Tidak dalam furu’ maupun dalam ushul, karena mereka mensifatinya dengan mujtahid. Akan tetapi yang mereka contoh dari beliau adalah caranya berijtihad. Atau paling tidak beliau adalah seorang mujtahid dalam madzhab yang mampu untuk mengeluarkan hukum-hukum dari kaidah-kaidah yang dinyatakan sang imam madzhab, dan tidak pernah derajat beliau rendah dari martabat itu selamanya.

Dan berkata Maulana Abdul Aziz al-Muhaddits ad-Dahlawi dalam kitab Bustan al-Muhadditsin: “Dalam mukhtashar Thahawi menunjukkan bahwa beliau adalah seorang mujtahid. Dan bukan seorang muqallid (pengekor) terhadap madzhab Hanafi dengan pengekoran total. Karena beliau sering memilih pendapat yang berbeda dengan madzhab Abu Hanafi ketika hal itu berdasarkan dalil-dalil yang kuat.

Murid-Murid Beliau

Tidak sedikit kalangan ahli ilmu yang berguru pada beliau. Diantara mereka para hufadz yang termasyhur. Mereka menyimak dari beliau, mendapat manfaat dari ilmu beliau. Diantaranya adalah sebagai berikut:

Al-Hafizh Abul Farj Ahmad bin al-Qasim bin Ubaidillah bin Mahdi al-Baghdadi. Atau yang terkenal dengan nama Ibnu Khasyab. Wafat 364 H.
Al-Imam al-Faqih al-Qadli Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Manshur al-Anshari ad-Damaghaani.
Ismail bin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Aziz, atau yang terkenal dengan nama Abu Sa’id al-Jurjani al-Khallaal al-Warraaq. Wafat tahun 364 H
Al-Muhaddits al-Hafizh al-Jawwal al-Mushannif Abu Abdullah al-Husain bin Ahmad bin Muhammad bin Abdirrahman bin Asad bin Sammakh bin Syammaakhi al-Hirawi ash-Shaffar, pengarang al-Mustakhraj Ala Shahih Muslim. Wafat tahun 371 H.
Al-Muhaddits al-Imam Abu Ali al-Husain bin Ibrahim bin Jabir bin Abi Azzamzaam ad-Dimasyqi al-Faraidli asy-Syahid. Wafat tahun 368 H.
Al-Imam al-Hafizh ats-Tsiqah ar-Rahaal al-Jawwal Muhadditsul Islam Alim al-Mua’ammarin Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayub bin Muthair a-Lakhmi As Syammi At Thabrani, pengarang tiga mu’jam; al-Kabir, al-Ausath, As Shaghir. Wafat tahun 360 H.
Al-Imam al-Hafizh An Naqid al-Jawal Abu Ahmad Abdullah bin ‘Addi bin Abdullah bin Muhammad bin al-Mubarak bin al-Qaththaan al-Jurjaani, pengarang kitab al-Kamil. Wafat tahun 365 H.
Al-Imam al-Hafizh al-Mutqin Abu Sa’id Abdurrahman bin Ahmad bin Yunus bin Abdil A’la ash-Shadafi al-Mishri, pengarang kitab Tarikh Ulama’ Mishra. Wafat tahun 347 H.
Al-Imam al-Hafizh Ats Tsiqah al-Jawwal Abu Bakar Muhammad bin Ja’far bin al-Husain al-Baghdadi al-Warraaq. Wafat tahun 370 H.
Asy-Syaikh al-‘Alim al-Hafizh Abu Sulaiman Muhammad bin al-Qadli Abdullah bin ahmad bin Rabi’ah bin Zabrin ar-Raba’i. Wafat tahun 379 H.
Asy-Syaikh al-Hafizh al-Mujawwid Muhaddis Iraq Abul Husein Muhammad bin al-Mudzaffar bin Musa bin Isa bin Muhammad al-Baghdadi. Wafat tahun 379 H.
Al-Muhaddits ar-Rahhal Abul Qasim Maslamah bin al-Qasim bin Ibrahim al-Andalusi al-Qurthubi. Wafat tahun 353 H.
MuhadditsAshbahaan al-Imam ar-Rahhal al-Hafizh ash-Shaduq Abu Bakar Muhammad bin Ibrahim bin Ali bin ‘Ashim bin Zaadzan al-Ashbahan, yang termasyhur dengan sebutan Ibnul Muqri’ al-Mu’jam. Wafat tahun 381 H.
Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Salamah Abul Hasan ath-Thahawi, anak imam Thahawi. Wafat tahun 381 H.
Abu Utsman Ahmad bin Ibrahim bin Hammad bin Zaid al-Azdi. Wafat tahun 329 H.
Dan lain-lain rahimahullah ajma’in.

Kitab-Kitab Karangan Beliau

Imam ath-Thahawi adalah termasuk diantara sekian orang yang mempunyai banyak kitab karangan dan mahir dalam menyusun tashnifaat. Dikarenakan beberapa faktor yang dianugerahkan Allah kepadanya. Yakni cepat hafal, mempunyai wawasan pengetahuan yang luas, dan mempunyai kesiapan yang cukup, beliau telah menyusun berbagai macam dan jenis kitab, baik dalam bidang aqidah, tafsir, hadits, fiqih, dan tarikh. Sebagian ahli tarikh menyatakan lebih dari tiga puluh kitab. Diantaranya sebagai berikut:

Syarh Ma’ani al-Atsar.
Ikhtilaaf al-Fiqhiyah.
Mukhatashar athThahawi.
Sunan asy-Syafi’i.
Al-Aqidah ath-Thahawiyah.
Naqdlu kitab al-Mudallisin li Faqih Baghdad al-Husain bin Ali bin Yazid al-Karabisi.
Taswiyatu baina Hadtsana wa Akhabarana.
Asy-Syurut ash-Shaqhir.
Asy-Syurut al-Ausath.
Asy-Syurut al-Kabir.
At-Tarikh al-Kabir.
Ahkamul Qur’an
Nawadirul Fiqhiyah.
An-Nawadir Wal Hikayaat.
Juz-un fi hukmi ardli Makkah.
Juz-un fi qismi al-fay`i wal Ghanaa-`im
Ar-Raddu ‘ala Isa bin Abbaan fi Kitaabihi alladzi sammaahu Khatha’u al-Kutub.
Al-Raddu ‘ala Abi Ubaid fiima Akhtha a fiihi fi Kitaabi an-Nasab.
Ikhtilaaf ar-Riwayaat ‘ala Madzhab al-Kuufiyiin.
Syarh al-Jami’ al-Kabir lil imam Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani.
Kitab al-Mahadlir wa as-Sijillaat.
Akhbar Abi Hanifah wa ash-haabuhu.
Kitab Aal-Washaya wal Faraidl.
Dan lain-lain.
Sumber:

Syarh Musykil al-Atsar oleh imam Thahawi.; Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyah oleh Imam al-‘Allaamah Abil Izzi al-Hanafi.

Ibnu Jarir Ath Thabary

(Wafat 310 H)

Nama sebenarnya adalah Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Khalib ath Thabary, Ia dilahirkan pada tahun 224 H, berdiam di baghdad dan wafat juga di situ.

Beliau dimasukan ke dalam generasi at Turmidzi dan Nasa’iy, beliau mendengar dari guru gurunya al-Bukhary dan Muslim dan lain lainnya, hadits haditsnya diriwayatkan oleh banyak ulama hadist lainnya.

Beliau dipandang sebagai Imam besar yang dipegangi pendapatnya, baliau mengetahui segala macam Qiraat, mengetahui makna makna al-Quran dan hukum hukumnya, juga mempunyai ilmu yang mendalam dalam bidang sunnah, pendapat pendapat sahabat, tabi’in dan ulama ulama sesudahnya.

Diantara karangannya yang termasyur adalah Kitab Tarikhbul umam wal muluk dan sebuah kitab tafsir Jamiul bayan.

Dan sebuah kitabnya lagi yaitu Tahdzibul atsar, dalam kitab ini dikemukakan hadist beserta illat illatnya, jalan jalannya, hukum hukum yang dikandungnnya, serta ikhtilafu fuqaha dan dalil dalilnya dan diterangkan pula dari segi bahasa.

Hanya sayang kitab ini tidak sempurna dikerjakan. Yang sudah dikerjakan Musnad Ibnu abbas. Kitab ini adalah kitab terbaik dari kitab kitabnya.

Ia wafat pada tahun 310 H di Baghdad.

Disalin riwayat ibnu Jarir dalam Tarikh Ibnu Katsir 11

Imam An-Nawawi

Disusun Oleh: Ustadz Anas Burhanuddin, Lc.

Beliau adalah Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy, Abu Zakaria. Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa, sebuah kampung di daerah Dimasyq (Damascus) yang sekarang merupakan ibukota Suriah. Beliau dididik oleh ayah beliau yang terkenal dengan kesalehan dan ketakwaan. Beliau mulai belajar di katatib (tempat belajar baca tulis untuk anak-anak) dan hafal Al-Quran sebelum menginjak usia baligh.

Ketika berumur sepuluh tahun, Syaikh Yasin bin Yusuf Az-Zarkasyi melihatnya dipaksa bermain oleh teman-teman sebayanya, namun ia menghindar, menolak dan menangis karena paksaan tersebut. Syaikh ini berkata bahwa anak ini diharapkan akan menjadi orang paling pintar dan paling zuhud pada masanya dan bisa memberikan manfaat yang besar kepada umat Islam. Perhatian ayah dan guru beliaupun menjadi semakin besar.

An-Nawawi tinggal di Nawa hingga berusia 18 tahun. Kemudian pada tahun 649 H ia memulai rihlah thalabul ilminya ke Dimasyq dengan menghadiri halaqah–halaqah ilmiah yang diadakan oleh para ulama kota tersebut. Ia tinggal di madrasah Ar-rawahiyyah didekat Al-Jami’ Al-Umawiy. Jadilah thalabul ilmi sebagai kesibukannya yang utama. Disebutkan bahwa ia menghadiri dua belas halaqah dalam sehari. Ia rajin sekali dan menghafal banyak hal. Iapun mengungguli teman-temannya yang lain. Ia berkata : “Dan aku menulis segala yang berhubungan dengannya,baik penjelasan kalimat yang sulit maupun pemberian harakat pada kata-kata. Dan Allah telah memberikan barakah dalam waktuku.” [Syadzaratudz Dzahab 5/355].

Diantara syaikh beliau: Abul Baqa’ An-Nablusiy, Abdul Aziz bin Muhammad Al-Ausiy, Abu Ishaq Al-Muradiy, Abul Faraj Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy, Ishaq bin Ahmad Al-Maghribiy dan Ibnul Firkah. Dan diantara murid beliau: Ibnul ‘Aththar Asy-Syafi’iy, Abul Hajjaj Al-Mizziy, Ibnun Naqib Asy-Syafi’iy,Abul ‘Abbas Al-Isybiliy dan Ibnu ‘Abdil Hadi.

Pada tahun 651 H ia menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, kemudian ia pergi ke Madinah dan menetap disana selama satu setengah bulan lalu kembali ke Dimasyq. Pada tahun 665 H ia mengajar di Darul Hadits Al-Asyrafiyyah (Dimasyq) dan menolak untuk mengambil gaji.

Beliau digelari Muhyiddin ( yang menghidupkan agama ) dan membenci gelar ini karena tawadhu’ beliau. Disamping itu, agama islam adalah agama yang hidup dan kokoh, tidak memerlukan orang yang menghidupkannya sehingga menjadi hujjah atas orang-orang yang meremehkannya atau meninggalkannya. Diriwayatkan bahwa beliau berkata :”Aku tidak akan memaafkan orang yang menggelariku Muhyiddin”.

Imam An-Nawawi adalah seorang yang zuhud, wara’ dan bertaqwa. Beliau sederhana, qana’ah dan berwibawa. Beliau menggunakan banyak waktu beliau dalam ketaatan. Sering tidak tidur malam untuk ibadah atau menulis. Beliau juga menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, termasuk kepada para penguasa, dengan cara yang telah digariskan Islam. Beliau menulis surat berisi nasehat untuk pemerintah dengan bahasa yang halus sekali. Suatu ketika beliau dipanggil oleh raja Azh-Zhahir Bebris untuk menandatangani sebuah fatwa. Datanglah beliau yang bertubuh kurus dan berpakaian sangat sederhana. Raja pun meremehkannya dan berkata: ”Tandatanganilah fatwa ini!!” Beliau membacanya dan menolak untuk membubuhkan tanda tangan. Raja marah dan berkata: ”Kenapa !?” Beliau menjawab: ”Karena berisi kedhaliman yang nyata”. Raja semakin marah dan berkata: ”Pecat ia dari semua jabatannya”. Para pembantu raja berkata: ”Ia tidak punya jabatan sama sekali. Raja ingin membunuhnya tapi Allah menghalanginya. Raja ditanya: ”Kenapa tidak engkau bunuh dia padahal sudah bersikap demikian kepada Tuan?” Rajapun menjawab: ”Demi Allah, aku sangat segan padanya”.

Imam Nawawi meninggalkan banyak sekali karya ilmiah yang terkenal. Jumlahnya sekitar empat puluh kitab, diantaranya:

Dalam bidang hadits : Arba’in, Riyadhush Shalihin, Al- Minhaj (Syarah Shahih Muslim), At-Taqrib wat Taysir fi Ma’rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir.

Dalam bidang fiqih: Minhajuth Thalibin, Raudhatuth Thalibin, Al-Majmu’.

Dalam bidang bahasa: Tahdzibul Asma’ wal Lughat.

Dalam bidang akhlak: At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an, Bustanul Arifin, Al-Adzkar.

Kitab-kitab ini dikenal secara luas termasuk oleh orang awam dan memberikan manfaat yang besar sekali untuk umat. Ini semua tidak lain karena taufik dari Allah Ta’ala, kemudian keikhlasan dan kesungguhan beliau dalam berjuang.

Secara umum beliau termasuk salafi dan berpegang teguh pada manhaj ahlul hadits, tidak terjerumus dalam filsafat dan berusaha meneladani generasi awal umat dan menulis bantahan untuk ahlul bid’ah yang menyelisihi mereka. Namun beliau tidak ma’shum (terlepas dari kesalahan) dan jatuh dalam kesalahan yang banyak terjadi pada uluma-ulama di zaman beliau yaitu kesalahan dalam masalah sifat-sifat Allah Subhanah. Beliau kadang menta’wil dan kadang–kadang tafwidh. Orang yang memperhatikan kitab-kitab beliau akan mendapatkan bahwa beliau bukanlah muhaqqiq dalam bab ini, tidak seperti dalam cabang ilmu yang lain. Dalam bab ini beliau banyak mendasarkan pendapat beliau pada nukilan–nukilan dari para ulama tanpa mengomentarinya.

Adapun memvonis Imam Nawawi sebagai Asy’ari, itu tidak benar karena beliau banyak menyelisihi mereka (orang-orang Asy’ari) dalam masalah-masalah aqidah yang lain seperti ziyadatul iman dan khalqu af’alil ‘ibad. Karya-karya beliau tetap dianjurkan untuk dibaca dan dipelajari, dengan berhati-hati terhadap kesalahan-kesalahan yang ada. Tidak boleh bersikap seperti kaum Haddadiyyun yang membakar kitab-kitab karya beliau karena adanya beberapa kesalahan didalamnya.

Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa kerajaan Saudi ditanya tentang aqidah beliau dan menjawab: ”Lahu aghlaath fish shifat” (Beliau memiliki beberapa kesalahan dalam bab sifat-sifat Allah).

Imam Nawawi meninggal pada 24 Rajab 676 H -rahimahullah wa ghafarahu-. 

Imam Al Baihaqi

Imam Al Baihaqi, yang bernama lengkap Imam Al-Hafith Al-Mutaqin Abu Bakr Ahmed ibn Al-Hussein ibn Ali ibn Musa Al Khusrujardi Al-Baihaqi, adalah seorang ulama besar dari Khurasan (desa kecil di pinggiran kota Baihaq) dan penulis banyak buku terkenal.

Masa pendidikannya dijalani bersama sejumlah ulama terkenal dari berbagai negara, di antaranya Iman Abul Hassan Muhammed ibn Al-Hussein Al Alawi, Abu Tahir Al-Ziyadi, Abu Abdullah Al-Hakim, penulis kitab "Al Mustadrik of Sahih Muslim and Sahih Al-Bukhari", Abu Abdur-Rahman Al-Sulami, Abu Bakr ibn Furik, Abu Ali Al-Ruthabari of Khusran, Halal ibn Muhammed Al-Hafaar, dan Ibn Busran.

Para ulama itu tinggal di berbagai tempat terpencar. Oleh karenanya, Imam Baihaqi harus menempuh jarak cukup jauh dan menghabiskan banyak waktu untuk bisa bermajelis dengan mereka. Namun, semua itu dijalani dengan senang hati, demi memuaskan dahaga batinnya terhadap ilmu Islam.

As-Sabki menyatakan: "Imam Baihaqi merupakan satu di antara sekian banyak imam terkemuka dan memberi petunjuk bagi umat Muslim. Dialah pula yang sering kita sebut sebagai 'Tali Allah' dan memiliki pengetahuan luas mengenai ilmu agama, fikih serta penghapal hadits."

Abdul-Ghaffar Al-Farsi Al-Naisabouri dalam bukunya "Thail Tareekh Naisabouri": Abu Bakr Al-Baihaqi Al Hafith, Al Usuli Din, menghabiskan waktunya untuk mempelajari beragam ilmu agama dan ilmu pengetahuan lainnya. Dia belajar ilmu aqidah dan bepergian ke Irak serta Hijaz (Arab Saudi) kemudian banyak menulis buku.

Imam Baihaqi juga mengumpulkan Hadits-hadits dari beragam sumber terpercaya. Pemimpin Islam memintanya pindah dari Nihiya ke Naisabor untuk tujuan mendengarkan penjelasannya langsung dan mengadakan bedah buku. Maka di tahun 441, para pemimpin Islam itu membentuk sebuah majelis guna mendengarkan penjelasan mengenai buku 'Al Ma'rifa'. Banyak imam terkemuka turut hadir.

Imam Baihaqi hidup ketika kekacauan sedang marak di berbagai negeri Islam. Saat itu kaum muslim terpecah-belah berdasarkan politik, fikih, dan pemikiran. Antara kelompok yang satu dengan yang lain berusaha saling menyalahkan dan menjatuhkan, sehingga mempermudah musuh dari luar, yakni bangsa Romawi, untuk menceraiberaikan mereka. Dalam masa krisis ini, Imam Baihaqi hadir sebagai pribadi yang berkomitmen terhadap ajaran agama. Dia memberikan teladan bagaimana seharusnya menerjemahkan ajaran Islam dalam perilaku keseharian.

Sementara itu, dalam Wafiyatul A'yam, Ibnu Khalkan menulis, "Dia hidup zuhud, banyak beribadah, wara', dan mencontoh para salafus shalih."

Beliau terkenal sebagai seorang yang memiliki kecintaan besar terhadap hadits dan fikih. Dari situlah kemudian Imam Baihaqi populer sebagai pakar ilmu hadits dan fikih.

Setelah sekian lama menuntut ilmu kepada para ulama senior di berbagai negeri Islam, Imam Baihaqi kembali lagi ke tempat asalnya, kota Baihaq. Di sana, dia mulai menyebarkan berbagai ilmu yang telah didapatnya selama mengembara ke berbagai negeri Islam. Ia mulai banyak mengajar.

Selain mengajar, dia juga aktif menulis buku. Dia termasuk dalam deretan para penulis buku yang produktif. Diperkirakan, buku-buku tulisannya mencapai seribu jilid. Tema yang dikajinya sangat beragam, mulai dari akidah, hadits, fikih, hingga tarikh. Banyak ulama yang hadir lebih kemudian, yang mengapresiasi karya-karyanya itu. Hal itu lantaran pembahasannya yang demikian luas dan mendalam.

Meski dipandang sebagai ahli hadits, namun banyak kalangan menilai Baihaqi tidak cukup mengenal karya-karya hadits dari Tirmizi, Nasa'i, dan Ibn Majah. Dia juga tidak pernah berjumpa dengan buku hadits atau Masnad Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali). Dia menggunakan Mustadrak al-Hakim karya Imam al-Hakim secara bebas.

Menurut ad-Dahabi, seorang ulama hadits, kajian Baihaqi dalam hadits tidak begitu besar, namun beliau mahir meriwayatkan hadits karena benar-benar mengetahui sub-sub bagian hadits dan para tokohnya yang telah muncul dalam isnad-isnad (sandaran atau rangkaian perawi hadits).

Di antara karya-karya Baihaqi, Kitab as-Sunnan al-Kubra yang terbit di Hyderabat, India, 10 jilid tahun 1344-1355, menjadi karya paling terkenal. Buku ini pernah mendapat penghargaan tertinggi.

Dari pernyataan as-Subki, ahli fikih, usul fikih serta hadits, tidak ada yang lebih baik dari kitab ini, baik dalam penyesuaian susunannya maupun mutunya.

Dalam karya tersebut ada catatan-catatan yang selalu ditambahkan mengenai nilai-nilai atau hal lainnya, seperti hadits-hadits dan para ahli hadits. Selain itu, setiap jilid cetakan Hyderabat itu memuat indeks yang berharga mengenai tokoh-tokoh dari tiga generasi pertama ahli-ahli hadits yang dijumpai dengan disertai petunjuk periwayatannya.

Itulah di antara sumbangsih dan peninggalan berharga dari Imam Baihaqi. Dia mewariskan ilmu-ilmunya untuk ditanamkan di dada para muridnya. Di samping telah pula mengabadikannya ke dalam berbagai bentuk karya tulis yang hingga sekarang pun tidak usai-usai juga dikaji orang.

Imam terkemuka ini meninggal dunia di Nisabur, Iran, tanggal 10 Jumadilawal 458 H (9 April 1066). Dia lantas dibawa ke tanah kelahirannya dan dimakamkan di sana. Penduduk kota Baihaq berpendapat, bahwa kota merekalah yang lebih patut sebagai tempat peristirahatan terakhir seorang pecinta hadits dan fikih, seperti Imam Baihaqi.

Sejumlah buku penting lain telah menjadi peninggalannya yang tidak ternilai. Antara lain buku "As-Sunnan Al Kubra", "Sheub Al Iman", "Tha La'il An Nabuwwa", "Al Asma wa As Sifat", dan "Ma'rifat As Sunnan cal Al Athaar".

Sumber: http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=162

© all rights reserved
made with by templateszoo