Awal Penciptaan Alam Semesta Sesuai Al-Qur'an Dan Hadits

0



Di kutip dari Kitab Mukasyafatul Qulub Karya Imam Al-Ghazali

Diceritakan bahwa yang pertama diciptakan oleh Allah, adalah substansi murni. Lalu Allah Subhanahu Wata'ala memandang kepadanya dengan pandangan menakutkan sehingga substansi itu mencair dan bergelombang, karena saking takutnya kepada Tuhannya, dan jadilah dia sebagai air. 

Kemudian Allah swt memandang kepadanya dalam pandangan rahmah, maka membekulah sebagiannya. Maka darinyalah Allah swt menciptakan Arasy yang terus bergoyang-goyang. Maka Allah swt menuliskan padanya: Laa ilaha illa Allah Muhammad ar Rasulullah. Tenanglah Arasy, sementara air masih tetap bergelombang, dan akan tetap seperti itu sampai hari kiamat. 

Di dalam Qur'an surat Hud,  Allah SWT berfirman.

{وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ(7) }
Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, (QS Hud Ayat 7)

Kemudian mereka saling berbenturan, bergelombang dan naiklah darinya dalam bentuk asap di mana antara yang satu dengan bagian yang lain lebih tinggi secara bertumpuk-tumpuk. 

Sementara air itu berbuih, lalu darinya Allah swt menciptakan langit dan bumi dalam beberapa lapis, di mana keduanya saling menempel, lalu di dalamnya Allah swt menciptakan angin sehingga antara lapisan-lapisan langit dan bumi menjadi terbelah-belah, sebagaimana diberitakan oleh Allah swt dengan firman-Nya; 

Di dalam surat Surat Al-Baqarah ayat ke 29, Allah SWT berfirman:
{هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (29) }
Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
(QS Al-Baqarah ayat 29)
 
Masih dikutip dari Kitab Mukasyafatul Qulub Karya Imam Al-Ghazali, yang mengatakan bahwa langit itu lebih putih ketimbang air susu dan dia nampak hijau karena gunung Qaf. 

Nama langit itu adalah Raqiah. Langit kedua berasal dari besi yang bersinar laksana mutiara, namanya Faidum atau Ma`un. Langit ketiga berasal dari tembaga yang disebut Malakut atau Hariyun. Langit keempat berasal dari perak putih yang cahayanya hampir-hampir menyilaukan mata, yang bernama az-Zahirah. Langit kelima berasal dari emas merah yang disebut al Mazinah atau Musahharah. Langit keenam berasal dari permata yang bersinar laksana mutiara yang bernama al Khalishah. Dan langit ketujuh terbuat dari batu yaqut merah dan bernama al Labiah atau ad Dami'ah dan disinilah terdapat Bait al Ma'mur yang memiliki empat tiang. yaitu satu tiang berasal dari batu yaqut merah, satu tiang dari batu zabarjud hijau, satu tiang berasal dari perak putih dan satu tiang berasal dari emas merah

Dikatakan bahwa Bait al Ma'mur merupakan sebuah lembah yang dalam yang setiap hari dimasuki tujuh puluh ribu malaikat yang tidak pernah kembali lagi ke sana sampai hari kiamat. 

Di dalam surat Al-Fushshilat, Allah SWT juga berfirman
{قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الأرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَنْدَادًا ذَلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ (9) وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِلسَّائِلِينَ (10) ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلأرْضِ اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ(11) فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ(12)}
Katakanlah, "Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam.” Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa genap. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit, dan Langit itu masih merupakan asap, lalu dia berkata kepadanya dan kepada bumi, "Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa" Keduanya menjawab, "Kami datang dengan suka hati.". Maka Dia menjadikan tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Fushshilat Ayat 11-12)

Di dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:
{اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأجَلٍ مُسَمًّى يُدَبِّرُ الأمْرَ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ (2) }

Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kalian lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kalian meyakini pertemuan (kalian) dengan Tuhan kalian. (QS Ar-Ra'du Ayat. 2)

Dikutip dari tafsir Ibnu Katsir, bahwa Allah Swt. menceritakan tentang kesempurnaan kekuasaan-Nya dan kebesaran pengaruh-Nya, bahwa dengan seizin dan perintah-Nya langit ditinggikan tanpa pilar penyangga. Bahkan dengan seizin dan perintah-Nya serta penundukan dari-Nya, langit ditinggikan dari bumi dalam jarak yang tingginya tak terperikan dan tak terjangkau oleh ukuran. 

Diterangkan bahwa; Langit pertama mengelilingi bumi dan sekitarnya. Jarak antara langit pertama dan bumi dari setiap arah adalah perjalanan lima ratus tahun, sedangkan ketebalan langit pertama juga sejauh perjalanan lima ratus tahun. Kemudian langit kedua mengelilingi langit pertama beserta semua isinya, dan jarak antara langit pertama ke langit kedua adalah lima ratus tahun perjalanan, sedangkan ketebalan langit kedua adalah perjalanan lima ratus tahun. Demikian pula seterusnya pada langit yang ketiga, langit keempat, langit kelima, langit keenam, dan langit ketujuh. 

Teman-teman sekalian, Tidak disebutkan apakah perjalanan tersebut mengacu kepada kecepatan manusia berjalan kaki?, apakah mengacu kepada kecepatan kuda berlari?, apakah mengacu kepada kecepatan burung terbang?, atau apakah mengacu kepada kecepatan cahaya?, karena jika mengacu kepada kecepatan pesawat antariksa adalah hal yang tidak mungkin, karena pada jaman Rasulullah belum ditemukan pesawat terbang. ataukah mungkinkah kecepatan yang dimaksud mengacu kepada kecepatan waktu langit?, karna sebagaimana Allah terangkan di dalam Al-Qur'an, sehari di bumi adalah seribu tahun waktu di langit menurut perhitungan manusia: 

يُدَبِّرُ الأمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الأرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. (QS As-Sajdah Ayat. 5)

Teman-teman sekalian, Kita asumsikan saja kalau perjalanan yang dimaksud adalah perjalanan manusia pada umumnya dengan berjalan kaki. Menurut penelitian disebutkan bahwa Kecepatan manusia berjalan pada umumnya adalah rata-rata 8km/jam

Kalau kita hitung manusia berjalan selama sehari semalam tanpa berhenti, maka dia akan menempuh perjalanan sejauh 192 km. (24 jam kali 8km sama dengan 192km)

Dan Kalau dia terus berjalan selama satu bulan tanpa henti , maka dia akan menempuh sejauh 5.760 km. (192km x 30 = 5.760km)

Dan Kalau dia berjalan selama satu tahun terus menerus tanpa henti, artinya dia akan menempuh perjalanan sejauh 69.120km. (5.760 x 12bln = 69.120km)

Dari perhitungan tersebut kita bisa mengetahui kalau seandainya manusia melakukan perjalanan dengan berjalan kaki tanpa henti selama 500 tahun, maka dia akan menempuh sejauh 34.560.000 km. (69.120 x 500 = 34.560.000km)

Hanya saja, usia manusia zaman sekarang tidak ada yang sampai lima ratus tahun, maka dari itu tidak akan ada manusia yang sanggup untuk menempuh perjalanan sejauh itu.

Dari perhitungan tersebut kita bisa menyimpulkan, kalau jarak antara bumi hingga langit pertama, yaitu 34.560.000 kilometer. Wallohu Alam bimurodih

Kalau kita buatkan tabel perhitungan manusia berjalan kaki dari bumi hingga ke langit pertama, kemudian dilanjutkan hingga ke langit ketujuh mungkin perhitungannya seperti dibawah ini

Bumi - Langit pertama 

500 Tahun

69.120 Km

               34.560.000

Langit pertama

1000 Tahun

69.120 Km

               69.120.000

Antara langit pertama dan kedua

1500 Tahun

69.120 Km

             103.680.000

Langit ke 2

2000 Tahun

69.120 Km

             138.240.000

Antara langit Kedua dan ketiga

2500 Tahun

69.120 Km

             172.800.000

Langit ke 3

3000 Tahun

69.120 Km

             207.360.000

Antara langit Ketiga dan keempat

3500 Tahun

69.120 Km

             241.920.000

Langit ke 4

4000 Tahun

69.120 Km

             276.480.000

Antara langit Keempat dan kelima

4500 Tahun

69.120 Km

             311.040.000

Langit ke 5

5000 Tahun

69.120 Km

             345.600.000

Antara langit Kelima dan keenam

5500 Tahun

69.120 Km

             380.160.000

Langit ke 6

6000 Tahun

69.120 Km

             414.720.000

Antara langit Keenam dan ketujuh

6500 Tahun

69.120 Km

             449.280.000

Langit ke 7

7000 Tahun

69.120 Km

             483.840.000


Hitungan jumlah ini, bukanlah jumlah mutlak berdasar hadits, melainkan hanya sebuah hitungan matematik, yang didasarkan atas keterangan tafsir ibnu katsir, tentang jarak antara bumi dan langit, mulai dari langit pertama hingga langit ke tujuh, seandainya perjalanan tersebut diasumsikan dengan berjalan kaki.

Adapun bintang-bintang yang ditetapkan di ke tujuh langit, sebagaimana diterangkan dalam kitab tafsir antara lain. Bintang Zukhal berada di langit ke tujuh, yaitu untuk hari Sabtu. Bintang Masytariy di langit ke enam untuk hari Kamis. Bintang Marikh di langit ke lima untuk hari Selasa. Bintang Syams di langit keempat untuk hari Ahad. Bintang Zuhrah di langit ketiga untuk hari Jum'at. Bintang Atharid di langit kedua untuk hari Rabu dan bintang Qamar di langit pertama untuk hari Senin

Mari kita kenali, apakah nama lain dari bintang-bintang yang disebutkan diatas.

  1. Bintang Qamar. (Bintang Qamar adalah Bulan) dia berada di langit pertama untuk hari Senin
  2. Bintang Atharid (Bintang Atharid adalah Planet Merkurius) dia berada di langit ke dua untuk hari Rabu
  3. Bintang Zuhrah (Bintang Zuhrah adalah Planet Venus atau Bintang Kejora) dia berada di langit ketiga untuk hari Jum'at
  4. Bintang Syams (Bintang Syams adalah Matahari) dia berada dilangit ke empat untuk hari ahad
  5. Bintang Marikh (Bintang Marikh adalah Planet Mars atau Bahrom) dia berada dilangit ke lima untuk hari Selasa
  6. Bintang Masytariy (Bintang Masytariy adalah Planet Jupiter atau Narjas) dia berada dilangit ke enam untuk hari Kamis
  7. Bintang Zukhal (Bintang Zukhal adalah Planet Saturnus) dia berada dilangit ke tujuh untuk hari Sabtu 

Teman-teman sekalian, Mari kita telusuri, berapakah jarak dari bumi hingga ke planet-planet yang disebutkan. menurut penelitian para pakar astronom diterangkan bahwa;

  1. Jarak dari bumi ke bulan adalah 384,400km 
  2. Jarak bumi ke Merkurius adalah 77-92juta km
  3. Jarak dari bumi ke Venus adalah 61 juta km
  4. Jarak dari bumi ke Matahari adalah 147-150 juta km
  5. Jarak dari bumi ke Mars adalah 225jt km
  6. Jarak dari bumi ke Jupiter adalah 590jt km
  7. Jarak dari bumi ke Saturnus adalah 1,2 miliar km
Itulah daftar jarak dari bumi ke planet-planet di Tata Surya, yang dikutip dari berbagai sumber.

Teman-teman sekalian.
Dengan mengkaji alam semesta berdasarkan keterangan yang bersumber dari Al-Qur'an, Tafsir, dan juga Hadits, serta membandingkannya dengan penelitian astronomi, maka kita bisa menyimpulkan bahwa keduanya hampir memiliki banyak kesamaan.

Dalam sebuah pendapat dikatakan, sesungguhnya bumi lebih utama ketimbang langit, karena sesungguhnya para nabi diciptakan darinya dan dikebumikan di dalamnya, sementara lapisan yang paling utama dari bumi adalah lapisan yang paling atas karena apa yang telah kami sebutkan dan karena dia merupakan tempat yang bermanfaat dari alam semesta.

Diriwayatkan dari ibnu Abbas ra bahwa langit yang paling utama adalah yang atapnya mendekati Arasy. yaitu Kursi, karena dekatnya kepada arasy dan karena semua bintang yang bermanfaat ditetapkan di sana selain tujuh bintang yang berjalan. 

Allah subhanahu wata'ala berfirman di dalam surat AL-Baqarah ayat 255

{وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ}
Kursi Allah meliputi langit dan bumi. (Al-Baqarah: 255) Itulah ayat yang agung 

Itulah ayat yang agung yang dikenal dengan sebutan ayat kursiy

Dikatakan bahwa Kursi merupakan kiasan dari ilmu-Nya, dikatakan pula dari kerajaan-Nya, atau kiasan dari cakrawala yang sudah anda kenal.

Diriwayatkan dari Ali ra bahwa sesungguhnya Kursi itu merupakan mutiara yang panjangnya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah swt. Dalam sebuah hadits dikatakan, bahwa tidak adalah langit dan bumi tujuh bersama Kursi kecuali sebuah lingkaran dalam sebuah lapangan. 

Diriwayatkan oleh ibnu Majah bahwa sesungguhnya langit-langit berada dalam rongga Kursi, dan Kursi berada di hadapan Arasy.

Diriwayatkan dari 'lkrimah, berkata bahwa matahari merupakan satu dari tujuh puluh bagian dari cahaya Kursi, sementara Arasy merupakan satu dari tujuh puluh bagian dari cahaya tabir Allah swt.

Disebutkan bahwa cahaya setiap tabir adalah lima ratus tahun perjalanan. Andaikan tidak seperti itu, pastilah para pemikul Arasy akan terbakar. Arasy merupakan anasir cahaya yang tinggi di atas Kursi jadi dia bukanlah Kursi. 

Teman-teman sekalian, 
Dengan kemajuan teknologi, sekarang ini manusia bisa melihat dan menyusuri bagaimana luasnya alam semesata yang begitu megah, dan bisa melihat betapa banyaknya benda-benda di alam semesta yang yang tidak kita ketahui, yang ternyata jumlahnya bagaikan lautan pasir di bumi.

Semakin kita menelusuri luasnya alam semesta, semakin banyak hal menakjubkan yang kita temukan, semakin menyadari kalau di alam ini masih banyak rahasia yang belum kita ketahui, semakin manusia menyadari betapa kecilnya bumi yang kita tinggali ini, jika di lihat dari luar angkasa sana, ibarat sebutir debu di tengah lautan.

Dengan mengkaji alam semesta berdasarkan keterangan yang bersumber dari Al-Qur'an, Tafsir, dan juga Hadits, serta membandingkannya dengan penelitian astronomi, maka kita bisa menilai bahwa keduanya hampir memiliki banyak kesamaan. dan hal ini menjadikan kita semakin yakin, bahwa apa yang disampaikan oleh Nabi kita Muhammad SAW 1400 tahun yang lalu, itu adalah kebenaran wahyu dari Allah yang Maha Menciptakan. Hal ini mendorong kita untuk semakin mempelajari Al-Qur'an dan Hadits, agar pengetahuan kita semakin luas dan semakin bertambah keimanan akan kekuasaan dan kebesaran Allah, dengan memikirkan penciptaan langit, sebagaimana Allah SWT menggambarkan dalam banyak ayat, yang salah satunya bisa kita baca dalam surat Ali Imran ayat: Allah SWT berfirman;
 الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِياماً وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنا مَا خَلَقْتَ هَذَا باطِلاً سُبْحانَكَ فَقِنا عَذابَ النَّارِ (191)
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. 
(Qur'an Surat Ali Imran ayat 191)

========================================================
Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan dari Abdullah ibnu Amr ibnul As yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"إِنَّ اللَّهَ قَدَّرَ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ"
Sesungguhnya Allah telah menetapkan takdir-takdir semua makhluk sebelum Dia menciptakan langit dan bumi dalam jarak masa lima puluh ribu tahun, dan saat itu 'Arasy-Nya berada di atas air.

Sehubungan dengan tafsir ayat ini Imam Bukhari mengatakan bahwa:

Imam Ahmad mengatakan,
عَنْ أَبِي رَزِين قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقَهُ؟ قَالَ: "كَانَ فِي عَمَاء، مَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ وَمَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ، ثُمَّ خَلَقَ الْعَرْشَ بَعْدَ ذَلِكَ"
dari Abu Razin bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw., "Wahai Rasulullah, di manakah Tuhan kita sebelum Dia menciptakan makhluk-Nya?" Rasulullah Saw. bersabda: Dia berada di awan yang di bawahnya tidak ada udara dan di atasnya tidak ada udara (pula), kemudian sesudah itu Dia menciptakan 'Arasy.


Allah Swt. telah berfirman:
{اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ}
Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. (Ath-Thalaq: 12), hingga akhir ayat.

Di dalam sebuah hadis disebutkan:
"مَا السماواتُ السَّبْعُ وَمَا فِيهِنَّ وَمَا بَيْنَهُنَّ فِي الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضِ فَلاة، وَالْكُرْسِيِّ فِي الْعَرْشِ كَتِلْكَ الْحَلْقَةِ فِي تِلْكَ الْفَلَاةِ
Tiadalah ketujuh langit beserta apa yang ada di dalamnya dan semua yang ada di antaranya bila dibandingkan dengan Al-Kursi kecuali seperti sebuah gelang yang dilemparkan di sebuah padang pasir. Dan (tiadalah) Al-Kursi bila dibandingkan dengan 'Arasy yang agung, melainkan seperti gelang itu yang berada di padang pasir.

Di dalam riwayat yang lain disebutkan:
"وَالْعَرْشُ لَا يُقَدِّرُ قَدْرَهُ إِلَّا اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ
'Arasy tidak dapat diperkirakan luasnya kecuali hanya oleh Allah Swt.

Disebutkan dari sebagian ulama Salaf bahwa jarak antara 'Arasy sampai ke bumi memakan waktu lima puluh ribu tahun, dan jarak di antara kedua sisinya adalah perjalanan lima puluh ribu tahun. 'Arasy berupa yaqut merah.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, bahwa langit itu mempunyai pilar penyangga, tetapi kalian tidak dapat melihatnya.
Lain pula halnya dengan Iyas ibnu Mu'awiyah, ia mengatakan bahwa langit di atas bumi seperti kubah, yakni tanpa tiang penyangga.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah melalui riwayat yang bersumber darinya; pendapat inilah yang lebih sesuai dengan konteks ayat dan makna lahiriah dari firman Allah Swt. yang mengatakan:
{وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الأرْضِ إِلا بِإِذْنِهِ}
Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya (QS Al-Hajj ayat 65)
Dengan demikian, berarti firman Allah Swt. yang menyebutkan: (sebagaimana) yang kalian lihat. (Ar-Ra'd: 2)

Firman Allah Swt.:
{ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ}
kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy. (Ar-Ra'd: 2)

Tafsir ayat ini telah disebutkan di dalam tafsir surat Al-A'raf, bahwa penyebutan sifat ini bagi Allah disertai dengan pengertian tanpa menggambarkan dan tanpa menyerupakan-Nya dengan sesuatu pun, Mahasuci Allah dari segala misal dan perumpamaan, lagi Mahatinggi dengan ketinggian yang setinggi-tingginya.

Berbeda halnya dengan al Hasan al Bashry.
Dikatakan dia berasal dari batu yaqut merah. Atau berasal dari permata hijau, atau mutiara putih atau dari cahaya. Dan yang paling utama hendaknya kita menghentikan pembicaraan untuk memastikan tentang hakekatnya. Sementara para astronom menamakannya sebagai cakrawala kesembilan, cakrawala tertinggi, cakrawalanya cakrawala atau cakrawala Athlas, yakni cakrawala yang sudah tidak ada bintang lagi di sana. Semua itu tercakup dalam apa yang telah dikatakan oleh astronom masa lalu yang mengatakan bahwa semua itu berada dalam cakrawala ke delapan, yang menurut mereka disebut cakrawala al Buruj. Dan menurut pakar syariat disebut Krudi

Arsy merupakan atap dari semua makhluk, maka tidak ada sesuatupun yang keluar dari garis edarnya. Dia merupakan titik puncak ilmu para hamba, dimana tidak ada tempat lagi untuk mengetahui yang berada di baliknya dan tidak ada tuntutan untuk mengetahui yang berada di atasnya. Allah swt berfirman

فَإِن تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ‎﴿١٢٩﴾‏

"Jika mereka berpaling (dari keimanan) maka katakanlah "Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arsy yang agung." (QS. 09/129)

Allah swt menyifatinya dengan keagungan, karena dia adalah makhluk yang paling agung. Dan Rasulullah saw benar-benar telah menyatakannya dengan tawakkal, sebagaimana yang diperintahkan dan karena itulah, beliau di dalam Taurat atau kitab yang lain disebut sebagai al Mutawakkil. Bagaimana mungkin, sementara tawakkal merupakan cabang dari tauhid dan makrifat, sedang Rasulullah saw adalah pimpinan mereka yang mentauhidkan Allah swt dan kepala para arifin. Tawakkal tidak berarti menafikan adanya berbagai sebab sebagaimana yang diduga oleh banyak orang - bahkan dia juga merupakan apa yang diperintahkan. 

Rasulullah Saw. telah bersabda:
«ما السموات السَّبْعُ فِي الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَدَرَاهِمَ سَبْعَةٍ أُلْقِيَتْ فِي تُرْسٍ»
Tiadalah langit yang tujuh (bila) diletakkan di dalam Kursi, melainkan seperti tujuh keping uang dirham yang dilemparkan di atas sebuah tameng.

Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِيِّ، أَنَّهُ سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْكُرْسِيِّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "والذي نفسي بيده ما السموات السَّبْعُ وَالْأَرْضُونَ السَّبْعُ عِنْدَ الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، وَإِنَّ فَضْلَ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ الْفَلَاةِ عَلَى تِلْكَ الْحَلْقَةِ"
Abu Zar Al-Gifari, pernah bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang Kursi. Maka beliau Saw. bersabda: Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tiadalah langit yang tujuh dan bumi yang tujuh lapis bila diletakkan pada Kursi melainkan seperti sebuah lingkaran (besi) yang dilemparkan di tengah-tengah padang pasir. Dan sesungguhnya keutamaan Arasy atas Kursi sama dengan keutamaan padang pasir atas lingkaran itu.


Tidak ada komentar

Posting Komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo