Pentingnya Maulid Dan Shalawat Atas Nabi

0
Pentingnya Maulid Dan Shalawat Atas Nabi

Pentingnya Maulid Nabi SAW, sebagai sarana mengingat Baginda Nabi SAW, yang senantiasa di ingat oleh pencipta-Nya. Dengan firman-Nya yang diperintahkan oleh Allah SWT dalam Surat al-Ahzab ayat 56:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu sekalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (Al-Ahzab: 56)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menerangkan makna ayat tersebut bahwa Allah swt menunjukkan kepada manusia derajat tingginya Rasulullah saw sehingga Allah swt membacakan shalawat kepadanya. Dan memerintahkan semua manusia dan juga para malaikat untuk bershalawat juga.
Rasulallah saw.bersabda:
قَالَ رَسُوْلُ الله: لَمَّا اقْتَرَفَ آدَمُ الخَطِيْئَةَ قَالَ: يَا رَبِّ أسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ لِمَا غَفَرْتَ لِي فَقالَ اللهُ يَا آدَمُ, وَكَيْفَ عَرَفْتَ مُحَمَّدًا وَلَمْ أخْلَقُهُ ؟ قَالَ: يَا رَبِّ لأنَّـكَ لَمَّا خَلَقْتَنِي بِيدِكَ وَنَفَخْتَ فِيَّ مِنْ رُوْحِكَ رَفَعْتُ رَأسِي فَرَأيـْتُ عَلَى القَوَائِمِ العَرْشِ مَكْتُـوْبًا:لإاِلَهِ إلاالله مُحَمَّدُ رَسُـولُ اللهِ, فَعَلِمْتُ أنَّكَ لَمْ تُضِفْ إلَى إسْمِكَ إلا أحَبَّ الخَلْقِ إلَيْكَ, فَقَالَ اللهُ صَدَقْتَ يَا آدَمُ إنَّهُ لاَحَبَّ الخَلْقِ إلَيَّ اُدْعُنِي بِحَقِّهِ فَقـَدْ غَفَرْتُ لَكَ, وَلَوْ لاَمُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُكَ
“Setelah Adam berbuat kesalahan ia berkata kepada Tuhannya: ‘Ya Tuhanku, demi kebenaran Muhammad aku mohon ampunan-Mu’. Allah bertanya (sebenarnya Allah itu maha mengetahui semua lubuk hati manusia, Allah bertanya ini agar Malaikat dan makhluk lainnya yang belum tahu bisa mendengar jawaban Nabi Adam as.):
‘Bagaimana engkau mengenal Muhammad, padahal ia belum kuciptakan?!’ Adam menjawab: ‘Ya Tuhanku, setelah Engkau menciptakan aku dan meniupkan ruh kedalam jasadku, aku angkat kepalaku. Kulihat pada tiang-tiang ‘Arsy termaktub tulisan Laa ilaaha illaLLah Muhammad RasuluLLah. Sejak saat itu aku mengetahui bahwa di samping nama-Mu, selalu terdapat nama makhluk yang paling Engkau cintai’.
Allah menegaskan: ‘Hai Adam, engkau benar, ia memang makhluk yang paling Kucintai. Berdo’alah kepada-Ku bi haqqihi (dengan berkah kebenarannya), engkau pasti Aku ampuni. Kalau bukan karena Muhammad engkau tidak Aku ciptakan’. (HR. al-Hakim, at-Thabrani dan al-Baihaqi).
Di samping itu disampaikan pula hadits yang diriwayatkan oleh Umar dan Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa hakikat Muhammad (Nur Muhammad) adalah sebagai penyebab penciptaan alam, Rasulullah saw bersabda:
يَا عُمَر اَتَدْرِى مَنْ اَنَا، اَنَا الَّذِى خَلَقَ الله عَزَّوَجَلَّ نُوْرِى اَوَّل كُلِ شَيْءٍ فَسَجَدَ لله وَ بَقِى فِي سُجُوْدِهِ سَبْعَمِاَئَة عَام وَلاَ فَخْرَ. يَا عُمَر اَتَدْرِى مَنْ اَنَا، اَنَا الَّذِى خَلَقَ الله القَلَمَ وَ اللَوْحَ وَ العَرْشَ وَالكُرْسِى وَالعَقْلَ الأَوَّلَ وَ نُوْرَ الإِيْمَانِ مِنْ نُوْرِى
"Wahai Umar, apakah engkau ingin tahu siapa saya? Saya adalah yang Allah pertama kali ciptakan cahayaku sebelum segala sesuatu, maka sujudlah cahayaku itu kepada Allah hingga tujuh ratus tahun dan tidak sombong. Wahai Umar, apakah engkau ingin tahu siapa saya? Saya adalah yang dari cahayaku Allah telah ciptakan qolam, lauh, arsy, kursi, akal pertama dan cahaya iman".
Allah berfirman,
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ
Katakanlah wahai Muhammad, ‘aku adalah manusia seperti kalian, tetapi aku mendapatkan wahyu dari Allah’. (QS. Al-Kahfi: 110).
Beliau manusia, tetapi bukan manusia biasa, karena menerima ayat Allah SWT dan Allah SWT pun bershalawat kepada Baginda Nabi SAW. Maka sepantasnyalah kita melaksanakan Maulid Nabi SAW, sebagai sarana mengingat kembali Baginda Nabi SAW dan sarana membaca Shalawat kepada Baginda Nabi SAW.
عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا رواه مسلم
“Sesungguhnya Amr bin al Ash RA mendengar Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa yang membaca shalawat sekali saja, Allah SWT akan memberi rahmat padanya sebanyak sepuluh kali” Allah SWT memerintahkan malaikat untuk selalu memohonkan doa kebaikan dan memintakan ampun bagi orang tersebut. Hal itu, terlebih jika ia membaca dengan hati hadir (hati yang fokus dan khusu’), tentunya mempunyai nilai tersendiri di mata-Nya. Semua hari baik, namun, ketika hari Jumat sebagai Sayyid al Ayyam (rajanya hari), umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak membaca shalawat, seperti sabda Nabi Muhammad SAW:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إِنَّ مِنْ اَفْضَلِ اَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَاَكْثِرُوْا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيْهِ فَاِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ رواه ابو داود
Sabda Rasulullah SAW “Hari yang paling mulia adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah shalawat di hari itu, karena shalawat kalian dihaturkan kepangkuanku”. Macam-macam Shalawat dan Faidahnya Banyak macam shalawat yang berkembang dan dikenal di masyarakat. Shalawat tersebut memiliki ciri khas dan faidah tersendiri. Namun, perlu diketahui, shalawat terbagi menjadi dua jenis, yaitu Shalawat Ma’tsurah dan Ghairu Ma’tsurah. Shalawat Ma’tsurah adalah shalawat yang secara redaksi terdapat tuntunan langsung dari Rasulullah SAW dalam hadis, sedangkan shalawat Ghairu Ma’tsurah adalah yang disusun dan dikarang oleh para ulama melalui berbagai kejadian dan latar belakang. Para ulama menyusun shalawat tersebut dengan riyadhah dan tirakat, meminta petunjuk kepada Allah. Di bawah ini kami ulaskan beberapa macam shalawat yang semuanya Ghairu Ma’tsurah, kecuali Shalawat Ibahimiyah yang diajarkan langsung oleh Rasulullah, beserta cara mengamalkannya dan apa faidahnya:
(صَلَوةُ الْفَاتِحِ)
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَ مَوْلَانَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ، وَ الْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَ الْهَادِيْ إِلِى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَ مِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ
Untuk shalawat ini, sebaiknya diamalkan setelah malakukan puasa Daud 41 hari dengan nyirih atau تَركُ الرُّوْحِ (menghindari semua yang bernyawa, semisal ikan, telur, daging). Doa dan shalawat tersebut dibaca ba’da shalat fardu dan shalat hajat 1x. Faidah shalawat ini sesuai dengan maknanya, yaitu membukakan segala sesuatu yang tertutup atas izin Allah. Sesuatu yang sebelumnya tertutup, dan belum mendapatkan solusinya, shalawat ini berisi permohonan kepada Allah agar membukannya.
(صَلَوةُ طِبِّ الْقُلُوْبِ)
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَ دَوَائِهَا وَعَافِيَةِ الْأَبْدَانِ وَ شِفَائِهَا وَ نُوْرِ الْأَبْصَارِ وَ ضِيَائِهَا وَقُوْتِ الْأَرْوَاحِ وَ غِذَائِهَا وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلِّمْ
Shalawat ini dibaca 3, 7, atau 11 kali setelah shalat maktubah. Shalwat ini bisa digunakan untuk mengobati orang sakit dengan membacanya 3 kali, kemudian ditiupkan ke air, lalu diminumkan kepada orang yang sakit itu.
(صَلَوةُ نُوْرِ الْأَنْوَارِ)
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نُوْرِ الْأَنْوَارِ وَ سِرِّ الْأَسْرَارِ وَ تِرْيَاقِ الْأَغْيَارِ وَ مِفْتَاحِ بَابِ الْيَسَارِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ الْمُخْتَارِ وَ آلِهِ الْأَطْهَارِ وَ أَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ عَدَدَ نِعَمِ اللَّهِ وَ إِفْضَالِهِ
Shalawat ini dibaca 3 kali setelah shalat fardlu. Faidahnya ada di bagian مِفْتَاحِ بَابِ الْيَسَارِ (kunci pembuka kemudahan), sehingga dengan membaca shalawat ini, memohon kepada Allah agar dibukan pintu kemudahan dari berbagai kesulitan.
(صَلَوةُ النُّوْرِ الذَّاتِيِّ)
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النُّوْرِ الذَّاتِيِّ وَ السِّرِّ السَّارِيِّ فِي سَائِرِ الْأَسْمَاءِ وَ الصِّفَاتِ
Shalawat ini, dibaca 7 kali ba’da shalat fardlu. Sebelumnya, melakukan puasa tiga hari dengan nyirih atau تَرْكُ الرُّوْحِ(tidak makan yang bernyawa, hanya boleh makanan nabati). Untuk mengobati anak kecil yang menangis tidak wajar, bisa dengan menuliskan shalawat ini secara sempurna. Pada huruf Mim kedua (mim yang tengah) pada lafadz مُحَمَّدٍ dibesarkan, dan di dalam huruf mim tadi ditulis nama anak yang menangis itu, kemudian dilipat dan dikalungkan pada anak tersebut. Insyaallah mujarab.
(صَلَوةُ كَمَالِيَّة)
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ كَمَا لَا نِهَايَةَ لِكَمَالِكَ وَ عَدَدَ كَمَالِهِ
Shalawat ini, dibaca ba’da maktubah, sebanyak-banyaknya. Boleh juga dibaca setiap waktu tanpa ketentuan. Menurut penuturan Habib Muhammad as Segaf bahwa membaca shalawat ini satu kali sama dengan membaca shalawat biasa 1000 kali.
(صَلَوةُ الْمُنْجِيَاتِ)
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَ الآفَاتِ، وَ تَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ، وَ تُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَآتِ، وَ تَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاتِ وَ بَعْدَ الْمَمَاتِ
Shalawat ini dibaca 7 kali ba’da Maktubah. Shalawat ini untuk meminta kepada Allah, agar dengan rahmat-Nya dapat menyelamatkan dari semua keadaan yang mendebarkan dan semua cobaan. Selain itu juga dapat meminta dikabulkan segala hajat, membersihkan diri dari semua keburukan/kesalahan, mengangkat derajat dan meminta disampaikan kepada maksud yang baik, baik ketika hidup maupun ketika sudah meninggal.
(صَلَوةُ النَّارِيَّةِ)
اَللَّهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَ سَلِّمْ سَلَامًا تَآمًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ, وَ تَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ، وَ تُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ, وَ تُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ، وَ حُسْنُ الْخَوَاتِمِ، وَ يُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ فِي كُلِّ لَمْحَةٍ وَ نَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلْوْمٍ لَكَ
Untuk mengamalkan puasa ini, dengan melakukan puasa 7 hari mutih (hanya makan nasi putih dan air ketika berbuka dan sahur). Selama dalam puasa, shalawat tersebut, setelah shalat fardlu, dibaca 33 kali. Kemudian, ba’da qiyamullail (shalat malam) dibaca 133 kali. Setelah selesai puasa, dibaca 1 kali setiap ba’da shalat. Bisa juga dibaca 7, 11, atau 21 kali ba’da maktubah. Shalawat ini untuk memohon kepada Allah agar dikabulkan hajatnya. Untuk hajat yang besar bisa dibaca 4444 kali sendirian atau berjamaah dan waktunya bebas, kapanpun dapat dilakukan.
(صَلَوةُ الْهَيْبَةِ)
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُلْقِي بِهَا الرُّعْبَ وَ الْهَيْبَةَ وَ الْفَشَلَ وَ الْمَوْتَ فِي قُلُوْبِ الْكَافِرِيْنَ وَ الظَّلِمِيْنَ وَ الْحَاسِدِيْنَ وَ الطَّاغِيْنَ وَ الْمُنَافِقِيْنَ وَ الْمُتَجَبِّرِيْنَ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ بَارِكْ وَ سَلِّمْ
Shalawat ini, dibaca 5 kali ba’da maktubah, kecuali setelah Maghrib dibaca 25 kali. Shalawat ini dipergunakan untuk menggetarkan dan membuat ketakutan di hati orang-orang kafir, orang dzalim, hasud, para penindas, orang munafik, dan orang yang angkuh.
(صَلَوةُ جَلْبِ الرِّزْقِ)
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ بِعَدَدِ أَنْوَاعِ الرِّزْقِ وَ الْفُتُوْحَاتِ، يَا بَاسِطُ الَّذِيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ، اُبْسُطْ عَلَيْنَا رِزْقًا وَاسِعًا مِنْ كُلِّ جِهَةٍ مِنْ خَزَآئِنِ غَيْبِكَ بِغَيْرِمِنَةِ مَخْلُوْقٍ مَحْضِ فَضْلِكَ وَ كَرَمِكَ يَارَحْمَنُ
Shalawat ini dibaca 3 atau 7 kali ba’da maktubah dengan faidah menarik rezeki dari segala arah.
(صَلَوةُ تَوَسُّعِ الْأَرْزَاقِ)
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُوَسِّعُ بِهَا عَلَيْنَا الْأَرْزَاقَ وَتُحَسِّنُ بِهَا لَنَا الْأَخْلَاقَ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَ سَلِّمْ
Shalawat ini dibaca 3 atau 7 kali ba’da maktubah. Shalawat ini secara khusus untuk memohon kepada Allah agar diluaskan rezekinya dan dikaruniai akhlak yang baik.
(صَلَوةُ الْفَرَجِ)
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ صَلَاةَ عَبْدٍ قَلَّتْ حِيْلَتُهُ, وَ رَسُوْلُ اللهِ وَسِيْلَتُهُ, وَ أَنْتَ يَا إِلَهِيْ وَ لِكُلِّ كَرْبٍ عَظِيْمٍ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيْهِ بِسِرِّ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Shalawat ini dibaca kapanpun dan tidak terbatasi oleh jumlah. Kegunaannya untuk meminta kepada Allah agar diberi kekuatan dan daya untuk menghadapi kesulitan yang melanda dengan mengandalkan kesaktian, kekuatan rahasia, dan kemujaraban basmalah. Shalawat ini sebaiknya digabung dengan Hizb Nawaw atau bisa juga digabung dengan doa surat al Fatihah sebanyak tiga kali. Berikut bacaan doa al Fatihah:
اَلْحَمْدُ اللهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَارَبَّنَالَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ الْفاَتِحَةِ الْمُعَظَّمَةِ وَالسَّبْعِ الْمَثَانِيْ وَالْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ ، أَنْ تَفْتَحَ لَنَا بِكُلِّ خَيْرٍ، وَأَنْ تَتَفَضَّلَ عَلَيْنَا بِكُلِّ خَيْرٍ، وَأَنْ تَجْعَلَنَا مِنْ أَهْلِ الْخَيْرِ، وَأَنْ تُعَامِلَنَا يَا مَوْلاَنَا مُعَامَلَتَكَ لِأَهْلِ الْخَيْرِ، وَأَنْ تَحْفَظَنَا فِي أَدْيَانِنَا وَأَنْفُسِنَا وَأَوْلاَدِنَا وَأَهْلِيْنَا وَأَصْحَابِنَا وَأَحْبَابِنَا مِنْ كُلِّ مِحْنَةٍ وَفِتْنَةٍ وَبُؤْسٍ وَضَيْرٍ، إِنَّكَ وَلِيُّ كُلِّ خَيْرٍ وَمُتَفَضَّلٌ بِكُلِّ خَيْرٍ وَمُعْطٍ لِكُلِّ خَيْرٍ * يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
(صَلَوةُ الْحَجِّيَّاتِ)
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا تُبَلِّغُنَا بِهِمَا حَجَّ بَيْتِكَ الْحَرَامِ، وَتَرْزُقُنَا بِهِمَا زِيَارَةَ قَبْرِ نَبِيِّكَ عَلَيْهِ أفْضَلُ الصَّلَاةِ وَأَزْكَى السَّلَامِ فِى لُطْفٍ وَعَافِيَةٍ وَبَرَكَةٍ وَبُلُوْغِ الْمَرَامِ عَدَدَ خَلْقِكَ وَرِضَا نَفْسِكَ وَزِنَةَ عَرْشِكَ وَمِدَادَ كَلِمَتِكَ
Shalawat ini dibaca di waktu kapanpun dan dalam jumlah berapapun asal rutin dan istikamah. Tujuannya meminta kepada Allah agar segera diberangkatkan menuju tanah suci untuk beribadah haji.
(صَلَوةُ الْبَدَوِي الكُبْرَى)
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِناَ وَمَوْلَاناَ مُحَمَّدٍ شَجَرَةِ اْلأَصْلِ النُّوْرَانِيَّةِ، وَلَمْعَةِ الْقَبْضَةِ الرَّحْمَانِيَّةِ، وَأَفْضَلِ الْخَلِيْقَةِ اْلإِنْسَانِيَّةِ، وَ أَشْرَفِ الصُّوْرَةِ الْجِسْمَانِيَّةِ، وَمَعْدِنِ اْلأَسْرَارِ الرَّبَّانِيَّةِ، وَخَزَائِنِ الْعُلُوْمِ اْلإِصْطِفَآئِيَّةِ، صَاحِبِ الْقَبْضَةِ اْلأَصْلِيَّةِ، وَالْبَهْجَةِ السَّنِيَّةِ، وَالرُّتْبَةِ الْعَلِيَّةِ، مَنِ انْدَرَجَتِ النَّبِيُّوْنَ تَحْتَ لِوَآئِهِ، فَهُمْ مِنْهُ وَ إِلَيْهِ، وَصَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلَيْهِ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ مَاخَلَقْتَ، وَرَزَقْتَ وَأَمَتَّ وَأَحْيَيْتَ اِلَى يَوْمِ تَبْعَثُ مَنْ أَفْنَيْتَ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًاكَثِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Shalawat ini mempunyai faidah untuk meminta kepada Allah agar dikaruniai kewibawaan dan dikabulkan segala hajatnya. Shalawat ini dibaca 100 kali di waktu yang tidak ditentukan, namun alangkah baiknya dibaca ketika malam hari.
(صَلَوةُ المُخَاطَبِ)
اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ قَدْ ضَاقَتْ حِيْلَتىِ أَدْرِكْنِى يَارَسُوْلَ اللهِ
Shalawat ini bisa dibaca kapan saja dan berapa saja, sebaiknya dibaca dengan istikamah. Faidah membaca shalawat ini adalah untuk meminta pertolongan kepada Allah dengan wasilah Rasulullah SAW untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berat, susah, dan sangat memperihatinkan yang tidak bisa dijangkau oleh pikiran dan tenaga manusia dalam artian sedang kepepet oleh sebuah masalah. Menurut cerita, pengarang shalawat mukhatab, Syaikh Hamid Affandi al ‘Imadi, ketika menyusun shalawat ini, dalam kondisi terjepit karena penguasa waktu itu dzalim. Banyak ulama dibunuh termasuk shahibu shalawat mukhatab yang dikejar-kejar dan akan dibunuh. Akhirnya beliau bertawassul kepada Rasulullah dengan shalawat itu ادركني يارسول الله, yaitu meminta dijemput ole Rasulullah agar selamat. Benar saja, ketika beliau terjepit, Rasul datang dan menjemput beliau, lalu akhirnya selamat.
(صَلَوةُ الإبراهيمية)
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ و بَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ
Shalawat ini bisa dibaca secara istikamah 3 atau 7 kali setelah shalat Isya. Shalawat ini adalah shalawat yang ma’tsur dari Rasulullah SAW, karena banyak Muhadis dan perawi meriwayatkan hadis yang secara redaksional terdapat shalawat ini. Beberapa ahlul hadis yang meriwayatkannya adalah Imam al Bukhary dan Muslim dalam Shahih mereka. At Tirmidzi, an Nasa’i, Abu Daud dalam sunan mereka juga meriwayatkanya. Begitu juga Imam malik dalam al Muwatha’-nya juga meriwatkannya. Imam al-Hafidz al ‘Iraqy dan as Sakhawy menyebut hadis itu adalah Muttafaq Alaih. Dalam redaksi hadis yang diriwayatkan oleh al Bukhari dalam Shahih-nya, Rasulullah bersabda:
مَنْ قَالَ هَذِهِ الصَّلاَةَ شَهِدْتُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِالشَّهَادَةِ وَشَفَعْتُ لَهُ
“Barang siapa membaca shalawat ini, maka aku bersaksi untuknya di hari kiamat dengan sebuah persaksian dan memberinya syafaat”.
(صَلَوةُ البَدْرِ)
صَـلاَةُ اللهِ سَـلاَمُ اللهِ *** عَـلَى طـهَ رَسُـوْلِ اللهِ
صَـلاَةُ اللهِ سَـلاَمُ اللهِ *** عَـلَى يـَس حَبِيْـبِ اللهِ
تَوَ سَـلْنَا بِـبِـسْـمِ اللّهِ *** وَبِالْـهَادِى رَسُـوْلِ اللهِ
وَ كُــلِّ مُجَـا هِـدِ لِلّهِ *** بِاَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى سَـلِّـمِ اْلاُمـَّة *** مِـنَ اْلافـَاتِ وَالنِّـقْـمَةَ
وَمِنْ هَـمٍ وَمِنْ غُـمَّـةٍ *** بِاَ هْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَللهُ
اِلهِى نَجِّـنَا وَاكْـشِـفْ *** جَـمِيْعَ اَذِ يـَّةٍ وَاصْرِفْ
مَـكَائـدَ الْعِـدَا وَالْطُـفْ *** بِاَ هْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى نَـفِّـسِ الْـكُـرَبَا *** مِنَ الْعَـاصِيْـنَ وَالْعَطْـبَا
وَ كُـلِّ بـَلِـيَّـةٍ وَوَبـَا *** بِاَهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
فَكَــمْ مِنْ رَحْمَةٍ حَصَلَتْ *** وَكَــمْ مِنْ ذِلَّـةٍ فَصَلَتْ
وَكَـمْ مِنْ نِعْمـَةٍ وَصَلَـتْ *** بِاَهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
وَ كَـمْ اَغْـنَيْتَ ذَالْعُـمْرِ *** وَكَـمْ اَوْلَيْـتَ ذَاالْفَـقْـرِ
وَكَـمْ عَافَـيـْتَ ذِاالْـوِذْرِ *** بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
لَـقَدْ ضَاقَتْ عَلَى الْقَـلْـبِ *** جَمِـيْعُ اْلاَرْضِ مَعْ رَحْبِ
فَانْـجِ مِنَ الْبَلاَ الصَّعْـبِ *** بِاَهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
ا َتَيـْنَا طَـالِـبِى الرِّفْـقِ *** وَجُـلِّ الْخَـيْرِ وَالسَّـعْدِ
فَوَ سِّـعْ مِنْحَـةَ اْلاَيـْدِىْ *** بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
فَـلاَ تَرْدُدْ مَـعَ الْخَـيـْبَةْ *** بَلِ اجْعَلْـنَاعَلَى الطَّيْبـَةْ
اَيـَا ذَاالْعِـزِّ وَالْهَـيـْبَةْ *** بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
وَ اِنْ تَرْدُدْ فَـمَنْ نَأْتـِىْ *** بِـنَيـْلِ جَمِيـْعِ حَاجَا تِى
اَيـَا جَـالِى الْمُـلِـمـَّاتِ *** بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى اغْفِـرِ وَاَ كْرِ مْنَـا *** بِـنَيـْلِ مـَطَا لِبٍ مِنَّا
وَ دَفْـعِ مَسَـاءَةٍ عَـنَّا *** بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى أَنْـْتَ ذُوْ لُطْـفٍ *** وَذُوْ فَـضْلٍ وَذُوْ عَطْـفٍ
وَكَـمْ مِنْ كُـرْبـَةٍ تَنـْفِىْ *** بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
وَصَلِّ عَـلَى النـَّبِىِّ الْبَـرِّ *** بـِلاَ عَـدٍّ وَلاَ حَـصْـرِ
وَالِ سَـادَةٍ غُــــرِّ *** بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
Shalawat ini disusun oleh seorang kiai asli Indonesia pada tahun 1960-a, bernama KH. Ali Manshur, seorang cucu dari KH Muhammad Siddiq dari Jember dan keponakan KH. Ahamad Qushairi, pengarang kitab Tanwir al Hija. Tersusunnya shalawat ini lantaran keresahaan beliau memikirkan pergolakan politik yang ada di Indonesia dengan semakin menguatnya PKI di daerah pedesaan. Warga NU (Nahdliyin) mulai terdesak oleh segala intervensi yang dilakukan PKI. Dominasi kekuasaan PKI di Indonesia pun mulai terlihat. Bahkan mereka sudah mulai berani membunuh Kiai-Kiai yang ada di desa yang senantiasa menjaga, mengayomi dan membimbing masyarakat di pedesaan. Shalawat Badriyah sejak lama kerap dilantunkan oleh kaum muslimin jika hendak memulai pengajian atau acara keagamaan lainnya. Dinamakan Shalawat Badriyah karena mengacu kepada bait pengharapan berkah dari para sahabat Nabi yang berperang di perang Badar. Shalawat Badriyah memiliki 28 bait dan mengandung beragam fadilah (manfaat) yang besar bagi siapa saja yang mengamalkannya. Di antaranya Shalawat ini untuk memohon keselamatan dan menghilangkan segala kesusahan, kesempitan dan segala yang menyakitkan. Selain itu, Shalawat Badriyah juga untuk memohon selamat dari bahaya musuh, untuk menangkis orang-orang yang berbuat kemaksiatan dan kerusakan, juga agar dihindarkan dari segala marabahaya dan bencana. Shalawat ini juga untuk memohon keuntungan, meluaskan rizki serta mendapatkan keberkahan untuk mendapatkan pahala yang besar. Demikian beberapa macam shalawat dan faidahnya masing-masing. Pada dasarnya, shalawat-shalawat di atas, faidahnya sesuai dengan kandungan maknanya masing-masing. Namun, soal waktu dan jumlah ada semacam trik-trik khusus yang diijazahkan oleh para ulama dan kiai melalui proses riyadhah atau tirakat. Semoga bermanfaat, selamat mencoba.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo