Tampilkan postingan dengan label Putra-Putri Rasulullah SAW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Putra-Putri Rasulullah SAW. Tampilkan semua postingan

Fatimah binti Muhammad SAW

Nama : Fatimah Az-Zahra binti Muhammad
Nasab Jalur ayah :
Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan bin Ismail bin Ibrahim
Lahir : Mekkah, 20 Jumadil Akhirah 5 tahun setelah kenabian, H / tahun 606
Wafat : Madinah, Selasa tanggal 13 Ramadhan tahun 11 H / 632
Pasangan : Ali bin Abu Thalib
Keturunan : Hasan, Husain, Zainab, Ummu Kultsum,

Fatimah binti Muhammad (606/614 - 632) atau lebih dikenal dengan Fatimah az-Zahra (Fatimah yang selalu berseri) (Bahasa Arab: فاطمة الزهراء) putri bungsu Nabi Muhammad dari perkawinannya dengan istri pertamanya, Khadijah.

Pemimpin wanita pada masanya ini adalah putri ke 4 dari anak anak Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, dan ibunya adalah Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwalid. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala menghendaki kelahiran Fatimah yang mendekati tahun ke 5 sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, bertepatan dengan peristiwa besar yaitu ditunjuknya Rasulullah sebagai penengah ketika terjadi perselisihan antara suku Quraisy tentang siapa yang berhak meletakan kembali Hajar Aswad setelah Ka’bah diperbaharui. Dengan kecerdasan akalnya dia mampu memecahkan persoalan yang hampir menjadikan peperangan di antara kabilah-kabilah yang ada di Makkah.

Kelahiran Fatimah disambut gembira oleh Rasulullahu Shallallahu alaihi wassalam dengan memberikan nama Fatimah dan julukannya Az-Zahra,

Ia putri yang mirip dengan ayahnya, Ia tumbuh dewasa dan ketika menginjak usia 5 tahun terjadi peristiwa besar terhadap ayahnya yaitu turunnya wahyu dan tugas berat yang diemban oleh ayahnya. Dan ia juga menyaksikan kaum kafir melancarkan gangguan kepada ayahnya. sampai cobaan yang berat dengan meninggalnya Khadijah (ibunya).
Ia sangatlah sedih dengan kematian ibunya.

Fatimah Az-Zahra tumbuh menjadi seorang gadis yang tidak hanya merupakan putri dari Rasulullah, namun juga mampu menjadi salah satu orang kepercayaan ayahnya pada masa Dia. Fatimah Az-Zahra memiliki kepribadian yang sabar,dan penyayang karena dan tidak pernah melihat atau dilihat lelaki yang bukan mahromnya. Rasullullah sering sekali menyebutkan nama Fatimah, salah satunya adalah ketika Rasulullah pernah berkata " Fatimah merupakan bidadari yang menyerupai manusia". 
Rasulullah sangat menyayangi Fatimah, setelah Rasulullah bepergian ia lebih dulu menemui Fatimah sebelum menemui istri istrinya. Aisyah berkata ,” Aku tidak melihat seseorang yang perkataannya dan pembicaraannya yang menyerupai Rasulullah selain Fatimah, jika ia datang mengunjungi Rasulullah, Rasulullah berdiri lalu menciumnya dan menyambut dengan hangat, begitu juga sebaliknya yang diperbuat Fatimah bila Rasulullah datang mengunjunginya.”.

Rasulullah mengungkapkan rasa cintanya kepada putrinya takala diatas mimbar:” Sungguh Fatimah bagian dariku , Siapa yang membuatnya marah berarti membuat aku marah”. Dan dalam riwayat lain disebutkan,” Fatimah bagian dariku, aku merasa terganggu bila ia diganggu dan aku merasa sakit jika ia disakiti.”.

Pernikahan
Ketika usianya beranjak dewasa, Fatimah Az-Zahra dipersunting oleh salah satu sepupu, sahabat sekaligus orang kepercayaan Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib.
Di hari itu pula para penghuni langit bergembira melihat pernikahan Ali dan fatimah.Sungguh pernikahan yang sangat indah, dengan bermahar baju besi yang dahulu di berikan oleh rasulullah kepada ali, kini menjadi mahar untuk anaknya.
Keturunan
Dari pernikahannya dengan Ali bin Abi Thalib, Fatimah Az Zahra memiliki 4 anak, 2 putra dan 2 putri. 2 putra yaitu Hasan dan Husain. Sedangkan yang putri yaitu Zainab dan Ummu Kultsum. Hasan dan Husain sangat disayangi oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Waalihi Wassalam. Sebenarnya ada satu lagi anak Fatimah Az Zahra bernama Muhsin ,tetapi Muhsin meninggal dunia saat masih kecil.
Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam menjelang wafat setelah beberapa hari sebelumnya menunaikan ibadah haji wada (Haji Terakhir) dan ketika ia melihat Fatimah datang menemuinya didalah kamar. Dengan ramah sambil berkata,” Selamat datang wahai putriku”.
Lalu Dia menyuruh duduk disamping kanannya dan membisikkan sesuatu, sehingga Fatimah menangis dengan tangisan yang keras, tatkala Fatimah sedih lalu Dia membisikkan sesuatu kepadanya yang menyebabkan Fatimah tersenyum.

Tatkala Aisyah bertanya tentang apa yang dibisikannya lalu Fatimah menjawab,” Saya tak ingin membuka rahasia”. Setelah Rasulullah wafat, Aisyah bertanya lagi kepada Fatimah tentang apa yang dibisikan Rasulullah kepadanya sehingga membuat Fatimah menangis dan tersenyum.
Lalu Fatimah menjawab, ”Adapun yang Dia katakan kepada saya pertama kali adalah dia memberitahu bahwa sesungguhnya Jibril telah membacakan al-Qur’an dengan hafalan kepada dia setiap tahun sekali, sekarang dia membacakannya setahun 2 kali, lalu Dia berkata, “Sungguh saya melihat ajalku telah dekat, maka bertakwalah dan bersabarlah, sebaik-baiknya Salaf (pendahulu) untukmu adalah Aku”. Maka akupun menangis yang engkau lihat saat kesedihanku. Dan saat Dia membisikan yang kedua kali, Dia berkata, ”Wahai Fatimah apakah engkau tidak suka menjadi penghulu wanita-wanita penghuni surga dan engkau adalah orang pertama dari keluargaku yang akan menyusulku”. Kemudian saya tertawa.

Tatkala 6 bulan sejak wafatnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, Fatimah jatuh sakit, namun ia merasa gembira karena kabar yang diterima dari ayahnya akan segera terjadi yaitu menyusul ayahnya menghadap ke Hadirat Ilahi. Tak lama kemudian iapun beralih ke sisi Tuhannya pada malam Selasa tanggal 13 Ramadhan tahun 11 H dalam usia 27 tahun.

Catatan
Siyar Alamin Nubala karya Adz-Dzahabi, Al-Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir, Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, Zad al-Ma'ad karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah; Quraisy adalah julukan bagi salah satu di antara Fihr atau an-Nadhr (Raudhatul Anwar karya Shafiyyurahman al-Mubarakfuri).

Zainab binti Muhammad

Zainab binti Muhammad

Kun-yah : Ummu Umamah
Nama : Zainab
Nasab
Jalur ayah
Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan bin Ismail bin Ibrahim[1]
Lahir : Zainab binti Muhammad
10 tahun sebelum diutusnya kenabian, 23 tahun sebelum H / tahun 600
Mekkah
Wafat8 H / 629
Madinah
Sebab wafat : Sakit
Dimakamkan di : Jannatul Baqi
Kebangsaan : Islam 
Etnis : Arab, suku Quraisy, bani Hasyimiyah
Zaman : Pra Hijriah - Abad pertama Hijriah
Wilayah aktif : Jazirah Arab
Dipengaruhi  oleh
Muhammad
Suami :  Abul 'Ash bin Ar-Rabi'
Keturunan :'Ali bin Abul 'Ash bin Ar-Rabi'
Umamah binti Abul 'Ash bin Ar-Rabi'
Orang tua : Muhammad
Khadijah binti Khuwailid
Zainab Binti Muhammad Rasulullah Saw adalah nama dari putri sulung dari Nabi Muhammad s.a.w.[2] Ia adalah anak perempuan dari isteri Nabi Muhammad yang bernama Khadijah binti Khuwailid.[2] Lahir 23 tahun sebelum Hijrah/600 M di Kota Mekah dan wafat 8 H/ 629 M dalam usia 29 tahun di Kota Madinah.

Perkawinan

Ia menikah dengan seorang laki-laki bernama AbuI 'Ash Bin Al-Rabi'.[2] Lelaki ini adalah sepupu dari ibunya sendiri.[2] Suami Zainab awalnya bukan pemeluk agama Islam.[2] Suaminya beberapa kali dipenjarakan dan Zainablah yang berusaha untuk membebaskan suaminya.[2] Salah satu usaha Zainab membebaskan suaminya adalah dengan menjual seuntai kalung milik ibunya, Khadijah binti Khuwailid dan menebus suaminya dari Nabi Muhammad s.a.w.[2] Nabi Muhammad s.a.w mengajukan syarat kepada Zainab agar suaminya dapat dibebaskan.[3]

Syaratnya adalah Zainab harus pergi ke Madinah apabila ingin suaminya dibebaskan.[3] Zainab pun menyetujui syarat tersebut.[3] Suaminya sempat dibebaskan tetapi kemudian dimasukkan lagi ke penjaran sampai akhirnya dibebaskan kembali karena Zainab turut campur tangan dalam proses pembebasan.[2] Setelah suaminya Zainab memeluk agama Islam maka Zainab menikah untuk kedua kalinya secara Islam.[2] Zainab mempunyai dua orang anak yang bernama Ali dan Umamah binti Abul 'Ash ar-Rabi'.[2] Akan tetapi, Ali meninggal saat masih bayi.[2] Umamah menikah dengan Ali bin Abi Thalib setelah wafatnya Fatimah binti Muhammad Rasulullah Saw, serta dinikahi Mughirah bin Naufal setelah 'Ali r.a meninggal. Memiliki seorang anak.[2] atau menurut pendapat lain, 2 orang anak, yaitu Yahya bin al-Mughirah dan Muhammad al-Ausath bin 'Ali bin Abi Thalib.[4]

Meninggal

Zainab binti Muhammad Rasulillah Saw, dia meninggal tahun 8 H/ 629 M di Madinah pada usia 29 tahun dalam keadaan sakit dan dikuburkan di pemakaman Baqi, kota Madinah, Saudi Arabia. [5]

Referensi

^ Siyar Alamin Nubala karya Adz-Dzahabi, Al-Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir, Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, Zad al-Ma'ad karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah; Quraisy adalah julukan bagi salah satu di antara Fihr atau an-Nadhr (Raudhatul Anwar karya Shafiyyurahman al-Mubarakfuri).

Ruqayyah binti Muhammad

Ruqayyah binti Muhammad
Gelar Dzat al-Hijratain
Kun-yah Ummu Abdillah
Nama Ruqayyah
Nasab
Jalur ayah
Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan bin Ismail bin Ibrahim[1]
Lahir Ruqayyah binti Muhammad
7 tahun sebelum diutusnya kenabian, 20 tahun sebelum H / tahun 603
Mekkah
Wafat Ramadhan 2 H / Maret 624
Madinah
Sebab wafat Sakit
Dimakamkan di Jannatul Baqi
Kebangsaan Islam (sebagai kerajaan Teokrasi).
Etnis Arab, suku Quraisy, bani Hasyimiyah
Zaman Pra Hijriah - Abad pertama Hijriah
Wilayah aktif Jazirah Arab
Dipengaruhi  oleh
Muhammad
Keturunan Abdullah
Orang tua Muhammad
Khadijah binti Khuwailid
Ruqayyah binti Muhammad bahasa Arab: رُقيّة بنت محمد adalah putri Nabi Muhammad S.A.W dan istrinya Khadijah binti Khuwailid, putri tertua kedua setelah Zainab. Kunyahnya adalah Ummu Abdillah, dan laqab/gelarnyanya Dzat al-Hijratain, lahir sebelum diutusnya kenabian Muhammad sekitar 7 tahun, kemudian ia masuk islam, dan hijrah ke Habasyah dan Madinah, ia wafat pada hari Pertempuran Badar tahun 2 H saat bersama dengan suaminya Utsman bin Affan pada usia 21 tahun. Kemudian, pada tahun ke-4 H adiknya, Ummu Kultsum binti Muhammad Saw dinikahi Utsman bin Affan sehingga Utsman digelari Dzun-Nurain (pemilik dua cahaya). [2]

Biografi Sunting

Ruqayyah lahir di Makkah pada tahun 20 Sebelum Hijriah atau tahun 603 sebelum diutusnya kenabian Muhammad sekitar 7 tahun, pada wakyu itu umur Nabi Muhammad 33 tahun. Ruqayyah menikah dengan sepupunya Utbah bin Abi Lahab ketika ia masih belum berusia 10 tahun, ketika diutusnya kenabian Muhammad, Ruqayyah masuk islam sedangkan suaminya tetap pada agamanya, ketika diturunkan surat al-Masad yang terdapat celaan bagi Abu Lahab dan istrinya, Abu Lahab memaksa anaknya Utbah untuk menceraikan Ruqayyah dan Utbah belum menyentuhnya.[3] Kemudian Utsman bin Affan menikahinya di Makkah, dan hijrah bersamanya ke Habasyah, dan lahirlah darinya seorang anak yang bernama Abdullah, oleh karena itu ia berkunyah Ummu Abdullah. Hingga berusia 6 tahun, Abdullah wafat pada tahun ke-4 Hijriah karena sakit.[4]

Kematian Sunting

Ruqayyah wafat ketika Nabi Muhammad masih hidup, tepatnya pada bulan Ramadhan tahun 2 H/Maret 624, ketika sedang berlangsungnya Pertempuran Badar, ia sakit, suaminya Utsman bin Affan menetap bersamanya di Madinah untuk menjaganya serta tidak ikut serta dalam Pertempuran Badar atas perintah Nabi Muhammad S.A.W, ketika Ruqayyah wafat, Utsman memakamkan jenazah istrinya pada hari dimana datangnya Zaid bin Haritsah ke Madinah membawa kabar kemenangan kaum muslimin pada pertempuran Badar. Ketika Nabi Muhammad S.A.W mendapatkan kabar atas wafat putrinya Ruqayyah, ia bersabda: Segala puji bagi Allah, telah dimakamkan putri-putri dari perempuan-perempuan yang mulia.[4]

Referensi Sunting

^ Siyar Alamin Nubala karya Adz-Dzahabi, Al-Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir, Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, Zad al-Ma'ad karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah; Quraisy adalah julukan bagi salah satu di antara Fihr atau an-Nadhr (Raudhatul Anwar karya Shafiyyurahman al-Mubarakfuri).

Putra-putri Rasulullah SAW


Putra-Putri Rasulullah Saw

Rasulullah SAW memiliki tiga orang putra, dari Khadijah dua orang, yaitu Qasim RA dan Abdullah RA, sedangkan seorang lagi dari istri beliau yang berstatus hamba, yaitu Mariyah al Qibthiyah, yaitu Ibrahim RA. Putri beliau sebanyak empat orang, semuanya dari Khadijah, yaitu Zainab RA, Ruqayyah RA, Ummi Kultsum RA dan Fatimah az Zahrah RA. Sedangkan dari istri-istri lainnya, beliau tidak memperoleh anak keturunan.

Qasim adalah putra Nabi SAW yang pertama, tetapi ada pula yang menyatakan bahwa ia adik Zainab. Ia meninggal ketika berusia sekitar 2 tahun. Sedangkan Abdullah lahir ketika beliau telah diangkat menjadi Rasul. Ia juga disebut sebagai Thayyib, dan juga Thahhir. Abdullah juga meninggal ketika masih kecil. Hal ini sempat membuat orang-orang kafir Quraisy gembira, mereka beranggapan dengan tidak adanya anak keturunan, akan terputuslah nama dan risalah Islam yang beliau sampaikan. Mereka tidak sadar bahwa kenabian tidaklah diturunkan dan risalah keislaman tidaklah berhenti dengan tidak adanya anak keturunan.

Tidak seperti enam putra-putri beliau dari Khadijah yang lahir di Makkah, Ibrahim lahir di Madinah, tepatnya pada bulan Dzulhijjah tahun 8 hijriah. Setelah tujuh hari kelahirannya, beliau melaksanakan aqiqah, menyembelih dua ekor kambing dan mencukur rambutnya dan menanamnya, kemudian bersedekah perak seberat rambut yang dipotong. Yang memotong rambut Ibrahim adalah sahabat Abu Hindi Bayadhi RA. Beliau kemudian bersabda, "Aku beri nama anak saya ini, seperti nama kakeknya, yaitu Ibrahim."

Ibrahim meninggal dunia pada bulan Rabi'ul Awwal tahun 10 hijriah dalam usia 16 bulan. Sebagian riwayat menyatakan usianya 18 bulan ketika meninggal. Beliau sempat mengeluarkan air mata ketika memakamkan jenazah putra beliau ini.

ZainabRA

Zainab lahir ketika Nabi SAW berusia 30 tahun, sepuluh tahun sebelum beliau diangkat menjadi Rasul. Ia menikah dengan keponakan Nabi SAW sendiri yang bernama Abul Ash bin Rabi. Zainab memeluk Islam ketika ayahnya diangkat sebagai Rasul dan mengemban Risalah Islam, tetapi suaminya tetap dalam kekafiran. Zainab tidak dapat menyertai Nabi SAW dan kaum muslimin lainnya berhijrah ke Madinah karena ia dalam penguasaan keluarga suaminya.

Ketika terjadi perang Badar, suami Zainab, Abul Ash berperang di pihak kaum kafir Quraisy. Dalam pertempuran ini ia tertawan. Setelah Nabi mengumumkan tawanan perang Badar dapat ditebus oleh keluarganya, Zainab mengirimkan uang dan perhiasan untuk menebus suaminya. Ketika perhiasan ini sampai ke tangan Nabi SAW, beliau mengenali bahwa perhiasan ini adalah pemberian Khadijah kepada Zainab, beliau jadi teringat dengan istri tercintanya ini dan keadaan putrinya, beliau jadi sedih.

Akhirnya Nabi SAW bermusyawarah dengan para sahabatnya, dan diputuskan untuk membebaskan Abul Ash tanpa tebusan. Uang dan perhiasan tersebut dikembalikan kepada Zainab, tetapi disyaratkan kepada Abul Ash untuk membawa istrinya tersebut ke Madinah jika ia telah sampai kembali di Makkah. Abul Ash menyetujui perjanjian ini, maka Nabi SAW mengirimkan dua orang untuk menjemput putrinya tersebut di luar kota Makkah, di suatu perkampungan bernama Ya'juj. Mereka ini adalah Zaid bin Haritsah dan salah seorang sahabat Anshar. Mereka diminta untuk menemani Zainab sampai ke Madinah.

Sesuai janjinya, setelah sampai di Makkah ia mengantarkan Zainab menemui dua utusan Nabi SAW yang menunggu di luar kotaMakkah. Adik Abul Ash, Kinanah bin Rabi mengantarkan seekor unta, yang kemudian dinaiki Zainab. Kinanah sendiri ikut rombongan ke Madinah. Ketika kepergian Zainab ini diketahui oleh kaum Quraisy, mereka sangat marah, mereka mengirimkan satu pasukan untuk menggagalkannya.

Ketika pasukan Quraisy itu telah dekat, salah seorang dari mereka, Habar bin Aswad, yang sebenarnya masih keponakan Zainab, melemparkan tombaknya dan mengenai Zainab, sehingga ia jatuh dari untanya. Zainab yang saat itu sedang hamil, mengalami keguguran. Melihat keadaan ini, Kinanah sesumbar akan melakukan perlawanan dengan panah-panah dan pedangnya. Pasukan Quraisy ini jadi keder juga, mereka tahu benar keahlian Kinanah dalam memanah dan kemampuannya memainkan pedang.

Akhirnya salah seorang anggota pasukan lainnya, Abu Sufyan membujuk Kinanah agar kembali dahulu ke Makkah, dan setelah suasana tenang, satu dua hari kemudian hendaknya ia membawa putri Nabi SAW secara sembunyi-sembunyi ke Madinah. Usul ini diterima baik oleh Kinanah.

Zainab akhirnya berhasil hijrah ke Madinah dengan diantar Kinanah, tetapi dalam keadaan sakit parah akibat terkena tombak, jatuh dari unta dan keguguran. Ia terus menderita dengan luka-lukanya ini selama beberapa tahun sampai akhirnya wafat pada tahun 8 Hijriah. Nabi SAW sendiri yang menurunkan dan menguburkan jenazahnya dalam keadaan yang sangat sedih.

Setelah selesai penguburan, tampak wajah Nabi SAW berseri-seri. Parasahabat menjadi keheranan dan menanyakan perubahan wajah beliau tersebut. Nabi SAW berkata, "Saya sangat khawatir atas kelemahan Zainab, dan saya berdoa agar Allah meluaskan kuburnya dan membebaskannya dari siksa kubur, dan Allah mengabulkan doaku."

Suami Zainab, Abul Ash bin Rabi datang ke Madinah pada tahun 6 atau 7 hijriah, kemudian memeluk Islam. Nabi SAW mengembalikan Zainab kepadanya, karena sebelumnya mereka belum bercerai.

Dari pernikahannya ini ia mempunyai dua orang anak, yaitu Ali bin Abul Ash dan Umamah binti Abul Ash.


Ruqayyah RA

Ruqayyah adalah adik Zainab, tiga tahun lebih muda dari kakaknya tersebut. Ia lahir ketika Nabi SAW berusia 33 tahun. Selagi masih kecil, ia telah dinikahkan dengan Utbah bin Abu Lahab, sebagaimana adiknya Ummu Kultsum dinikahkan dengan adik Utbah, Utaibah bin Abu Lahab. Ketika turun Surah Al Lahab, Abu Lahab berkata kepada dua anaknya, "Haram bagiku bertemu dengan kalian sebelum kalian menceraikan putri Muhammad!!"

Karena ancaman ini, keduanya menceraikan putri-putri Rasulullah SAW, walau dengan berat hati. Walaupun demikian, sebenarnya mereka belum pernah berkumpul karena saat itupun mereka masih kecil. Utbah kemudian memeluk Islam pada saat Fathul Makkah, setelah sebelumnya menceraikan istrinya.

Setelah memasuki usia dewasa, Ruqayyah dinikahkan Nabi SAW dengan Utsman bin Affan. Mereka berdua sempat hijrah ke Habasyah, dan kemudian mereka berdua hijrah lagi ke Madinah, setelah ada perintah Nabi SAW untuk melaksanakannya. Ketika terjadi perang Badar, Ruqayyah sedang sakit keras, sehingga Utsman diminta Nabi SAW tinggal di Madinah menunggui istrinya. Saat kabar kemenangan kaum muslimin di perang Badar sampai di Madinah, Utsman sedang memakamkan jenazah istrinya.

Dari pernikahannya ini, Ruqayyah mempunyai seorang anak benama Abdullah bin Utsman, ia lahir ketika mereka masih berhijrah di Habasyah. Abdullah meninggal ketika masih berusia 6 tahun, riwayat lain menyebutkan, ia meninggal satu tahun sebelum kewafatan ibunya.

Ummu Kultsum RA

Ummu Kultsum adalah adik dari Zainab, lebih tua beberapa tahun daripada Fatimah az Zahrah. Ia dinikahkan dengan Utaibah bin Abu Lahab ketika masih kanak-kanak. Ketika turun Surah Al Lahab, Utaibah dipaksa menceraikan Ummu Kultsum oleh Abu Lahab, karena isi surah yang mencela sikap Abu Lahab ini.

Berbeda dengan saudaranya, Utbah yang menyesali perintah ayahnya, Utaibah justru mendukungnya. Bahkan setelah menceraikan, ia mendatangi majelis Nabi SAW tanpa adab dan sopan santun, kemudian mencaci dan menghina Nabi SAW. Karena sikapnya yang keterlaluan ini, Nabi SAW berdoa, "Ya Allah, hendaknya Engkau siksa dia dengan anjing dari anjing-anjingmu…!"

Abu Thalib yang mendengar peristiwa ini, ia berkata kepada Utaibah, "Kamu tidak akan mati sebelum doa Muhammad itu terlaksana atasmu."

Utaibah sendiri merasa khawatir atas doa Nabi SAW, walau tidak percaya dengan kenabian beliau. Suatu ketika ia melakukan perjalanan dagang ke Syam bersama kafilah ayahnya, Abu Lahab, iaberkata, "Aku sangat khawatir dan cemas dengan doa Muhammad itu, karena itu setiap orang di kafilah ini hendaklah berjaga-jaga!!"

Ketika kafilah dagang ini bermalam di suatu tempat, mereka membentuk lingkaran dengan barang dagangan yang dibawanya, Utaibah tidur di tengahnya, dan anggota lainnya tidur mengelilinginya. Tengah malam ketika mereka tidur nyenyak, datanglah seekor singa, dan setiap orang wajahnya diciumnya. Ketika tiba giliran Utaibah, singa itu menerkamnya dan memisahkan kepalanya dari tubuhnya, setelah itu sang singa berlalu.

Sebagian riwayat menyebutkan, Utaibah ini yang masuk Islam dan Utbah yang mati diterkam singa. Yang jelas salah satu dari putra Abu Lahab ini memang memeluk Islam, dan satunya tewas diterkam singa, sebagai pengabulan doa Nabi SAW.

Setelah Ruqayyah meninggal dunia pada Rabi'ul Awwal tahun 3 hijriah, Nabi SAW menikahkan Ummu Kultsum ini dengan Utsman bin Affan. Tetapi belum sempat mempunyai anak, Ummu Kultsum meninggal pada bulan Sya'ban tahun 3 hijriah.

Fatimah Az Zahra RA

Fatimah az Zahrah adalah putri Rasulullah SAW yang ke empat. Sebagian riwayat menyatakan ia lahir pada tahun ke satu dari kenabian, tetapi riwayat lain menyebutkan ia lahir lima tahun sebelum kenabian. Nama Fatimah diberikan berdasarkan wahyu atau ilham yang diterima Nabi SAW, artinya 'menahan' atau 'terbebas dari neraka'. Menurut Rasulullah SAW, Fatimah adalah ratunya para bidadari di surga, karenanya ia menjadi putri yang paling dicintai Nabi SAW.

Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib pada tahun 2 hijriah, pernikahan inipun atas perintah Allah melalui wahyu atau ilham yang diterima Nabi SAW. Tujuh setengah bulan setelah pernikahan barulah mereka tinggal bersama dalam satu rumah. Dari penikahannya ini, mereka memiliki beberapa putra dan putri. Putra pertama adalah Hasan, kemudian Husain setahun kemudian, dan disusul Muhasan yang meninggal ketika masih kecil. Putri pertamanya adalah Ruqayyah, yang meninggal ketika masih kecil, disusul Ummu Kultsum dan Zainab.

Fatimah merupakan kerabat Nabi SAW yang paling terdahulu menyusul setelah wafatnya beliau. Diriwayatkan, ketika Nabi SAW sedang sakit keras menjelang sakaratul maut, beliau berbisik kepada Fatimah, dan ia jadi menangis tersedu-sedu. Beberapa saat kemudian beliau membisiki Fatimah lagi, kali ini ia tertawa gembira. Ketika beberapa orang bertanya kepadanya tentang sikapnya yang aneh, dari menangis kemudian tertawa, Fatimah menjelaskan bahwa pada bisikan pertama, beliau memberitahukan kalau beliau akan segera meninggalkan dunia ini, kembali ke hadirat Ilahi SWT, karena itu ia menangis tersedu-sedu. Pada bisikan kedua, beliau memberitahukan bahwa anggota keluarga beliau yang pertama kali menyusul, kembali ke hadirat Ilahi SWT adalah Fatimah sendiri, karenanya ia tertawa gembira karena ia tidak akan terlalu lama berpisah dengan Rasulullah SAW.

Fatimah adalah putri kesayangan Nabi SAW, namun demikian beliau tidak pernah melimpahinya dengan kekayaan dan kesenangan dunia, justru beliau mendorongnya untuk selalu beramal dan berpayah-payah untuk memperoleh keuntungan di akhirat. Pernikahannya dengan Ali bin Abi Thalib tidak membuat kehidupannya lebih ringan, karena karakter Ali adalah didikan Rasulullah SAW, kaya akan ilmu sehingga sangat zuhud terhadap dunia.

Fatimah terbiasa mengerjakan sendiri pekerjaan rumah tangganya. Menggiling gandum, mengangkut air untuk kebutuhan sehari-hari, dan beberapa pekerjaan lainnya, sehingga tangannya kasar dan timbul bintik-bintik hitam yang tebal. Melihat penderitaan istrinya ini, suatu kali Ali berkata kepada Fatimah, "Pergilah engkau menghadap Rasulullah, mintalah seorang pembantu untuk meringankan pekerjaanmu!"

Memang waktu itu baru saja datang beberapa orang hamba sahaya diberikan kepada Rasulullah. Memenuhi perintah suaminya, Fatimah berangkat menemui Nabi SAW, tetapi ternyata banyak orang yang datang di majelis Nabi SAW, Fatimah malu untuk menyampaikan maksudnya, dan ia pulang kembali. Keesokan harinya, Nabi SAW yang datang ke rumah Fatimah, beliau berkata, "Wahai Fatimah, ada apa engkau datang untuk menemuiku kemarin?"

Fatimah hanya diam, malu untuk menyampaikan maksudnya. Ali yang kemudian menjawab, "Wahai Rasulullah, dia mengerjakan pekerjaan rumah sendirian, menggiling gandum, mengangkat air, membersihkan rumah, dan pekerjaan lainnya, sehingga timbul bintik hitam di tangannya, luka-luka di dadanya dan pakaiannya menjadi kotor. Kemarin engkau mendapat beberapa hamba sahaya, maka kusuruh ia meminta salah seorang dari mereka untuk membantu pekerjaannya."

Nabi SAW tersenyum mendengar penjelasan Ali, kemudian bersabda, "Wahai Fatimah, bertakwalah kepada Allah, tetaplah menyempurnakan kewajibanmu kepada Allah, dan kerjakanlah pekerjaan rumah tanggamu. Kemudian, ketika engkau akan tidur, ucapkanlah Subkhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali. Ini lebih baik bagimu daripada seorang pembantu."

Putri kesayangan dan didikan Nabi SAW ini berkata dengan tulus, “Saya ridha dengan keputusan Allah dan RasulNya."
© all rights reserved
made with by templateszoo